Pemilihan Permainan Edukatif Agar Si Kecil Tekun

Gambar

Disebut mainan edukatif karena dapat merangsang daya pikir anak. Termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana membedakan mainan jenis ini dari mainan lainnya? Simaklah jawaban-jawaban tentang mainan edukatif yang disampaikan Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., psikolog perkembangan dari Fakultas Psikologi UI, yang juga terapis bermain.

APA YANG MASUK KATEGORI MAINAN EDUKATIF?

  1. Diperuntukkan bagi anak balita
    Yakni mainan yang memang sengaja dibuat untuk merangsang berbagai kemampuan dasar pada balita.
  2. Multifungsi
    Dari satu mainan bisa didapat berbagai variasi mainan sehingga stimulasi yang didapat anak juga lebih beragam.
  3. Melatih problem solving
    Dalam memainkannya anak diminta untuk melakukan problem solving. Dalam permainan pasel misalnya, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya menjadi utuh.
  4. Melatih konsep-konsep dasar
    Lewat permainan ini, anak dilatih untuk mengembangkan kemampuan dasarnya seperti mengenal bentuk, warna, besaran, juga melatih motorik halus.
  5. Melatih ketelitian dan ketekunan
    Dengan mainan edukatif, anak tak hanya sekadar menikmati tetapi juga dituntut untuk teliti dan tekun ketika mengerjakannya.
  6. Merangsang kreativitas
    Permainan ini mengajak anak untuk selalu kreatif lewat berbagai variasi mainan yang dilakukan. Bila sejak kecil anak terbiasa untuk menghasilkan karya, lewat permainan rancang bangun misalnya, kelak dia akan lebih berinovasi untuk menciptakan suatu karya, tidak hanya mengekor saja.

APA SAJA MANFAATNYA?

  1. Melatih kemampuan motorik
    Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan mainannya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.
  2. Melatih konsentrasi
    Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya — ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan.
  3. Mengenalkan konsep sebab akibat
    Contohnya, dengan memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat yang sangat mendasar.
  4. Melatih bahasa dan wawasan
    Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.
  5. Mengenalkan warna dan bentuk
    Dari mainan edukatif, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.

KAPAN ANAK DIAJAK MELAKUKAN PERMAINAN EDUKATIF?

Meski memiliki manfaat melimpah, bukan berarti anak bisa dijejali dengan mainan edukatif terus-menerus. Mainan edukatif hanya salah satu faktor pendukung perkembangan otak anak agar lebih maksimal. Jadi tak perlu memaksa atau memorsir anak untuk melakukan permainan edukatif setiap saat.

Selain mainan edukatif, anak juga perlu dikenalkan dengan mainan pada umumnya, seperti boneka, mobil-mobilan, dan mainan-mainan yang tidak untuk dibongkar pasang lainnya. Walau tidak termasuk mainan edukatif, tapi mainanmainan seperti itu tetap dapat menyumbangkan manfaat edukasi pada si kecil. Dengan konsep multiple intelligence edukasi bisa mencakup berbagai hal. Tidak selalu mengarah pada konsep-konsep dasar.

Misalnya begini, saat si kecil asyik bermain boneka, sebenarnya ia dilatih untuk melakukan interaksi dengan orang lain melalui boneka tersebut. Bagaimana dia harus “memperlakukan” si boneka dengan kasih sayang; disuapi, ditimang, disusui, dan tidak dibanting atau dinjak-injak. Motorik halus dan kasar si kecil juga tetap dapat terstimulasi secara tak langsung saat ia memakaikan baju pada bonekanya. Anak juga dapat mengenal warna serta peran sosial sebagai ibu, kakak, dan sebagainya.

KAPAN MAINAN EDUKATIF MULAI DIKENALKAN?

Tentu sedini mungkin. Sejak usia batita, sodori anak dengan berbagai jenis permainan baik dengan mainan edukatif ataupun bukan. Sekadar mengingatkan saja, perkembangan otak anak di usia ini masuk dalam fase emas (the golden age) atau otak si kecil sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena itulah, stimulasi amat diperlukan. Semakin banyak stimulasi maka koneksi antarsarafnya semakin banyak terhubung.

Anak yang sudah akrab dengan mainan edukatif sejak dini, perkembangan kecerdasannya akan terlihat lebih maksimal. Ia lebih mampu berkonsentrasi, kreatif, serta tekun. Sementara yang tidak, biasanya akan lebih tertinggal dalam masalah intelektual. Anak-anak yang tidak diperkenalkan dengan mainan edukatif akan lebih sulit untuk belajar mengenai bentuk dan warna.

Mereka juga tidak terbiasa untuk duduk tenang serta tekun. Hal ini dapat membuat anak menjadi sulit diarahkan untuk berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan nantinya. “Banyak kasus yang saya tangani, anakanak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun.”

BAGAIMANA MENGOPTIMALKAN MANFAATNYA?

Sebelum menyodorkan satu mainan edukatif pada si kecil, contohkan dahulu bagaimana cara memainkannya. Asal tahu saja, mainan edukatif berbeda dari mainan pada umumnya yang lebih mudah dipahami anak. Mobil-mobilan, contohnya, hanya tinggal digeser-geser, didorong atau ditarik, mungkin si kecil sudah bisa asyik memainkannya. Namun, pada mainan edukatif dibutuhkan cara tertentu untuk bisa mendapatkan asyiknya. Pasel misalnya harus disusun dan disesuaikan keping-kepingnya. Untuk itulah perlu ada arahan dari orang dewasa. Demikian pula dengan permainan palu yang kelihatannya simpel bagi orang dewasa tapi belum tentu bagi si kecil. Perlu penjelasan lebih dulu mengenai cara memalu untuk memasang “paku” dan mencopotnya kembali.

Beberapa anak mungkin saja dapat bermain tanpa perlu pengarahan terlebih dulu. Tapi jangan lupa, kemampuan setiap anak berbeda-beda. Ada yang cepat memahami kesalahannya dan cepat menganalisa, tetapi ada juga yang biasa-bisa saja, bahkan lambat. Bila si kecil termasuk lambat dan tidak mendapat pengarahan, maka bisa-bisa mainan edukatif tersebut hanya akan dibuangnya karena dianggap tidak menarik.

Satu hal penting, saat mengarahkan anak, jangan mengharuskan ia melakukan persis sama seperti yang sudah kita contohkan. Berikan kebebasan padanya untuk melakukan sesuai dengan keinginannya. Contoh, saat kita membangun rumah-rumahan dari mainan balok, biarkan ia membuat mobil-mobilan dari mainan yang sama.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 1 TAHUN:

  1. Permainan memasukkan benda ke dalam wadah atau menumpuk benda (seperti gelas plastik air mineral), sangat cocok bagi anak satu tahunan.
  2. Setelah itu si kecil bisa ditawari mainan single puzzle, yaitu mainan yang pada penutupnya diberi lubang-lubang berbentuk geometris, seperti segitiga, segiempat dan lingkaran. Lalu si kecil diminta memasukkan benda-benda yang sesuai pada lubangnya. Namun, kita belum bisa menuntutnya untuk memasukkan setiap bentuk sampai selesai, melainkan harus satu per satu. Berikan ia bentuk segitiga dulu lalu arahkan tangannya untuk memasukkan ke lubang yang berbentuk sama dengan arah yang tepat, misalnya.

Ajak si kecil untuk melakukan tuang-menuang air dari wadah yang lebih kecil ke wadah yang lebih besar. Dengan begitu anak tahu bahwa air dari wadah yang lebih kecil bisa tertampung dalam wadah yang lebih besar. Permainan serupa dengan menunjukkan bahwa benda yang lebih kecil bisa masuk ke dalam wadah yang lebih besar juga bisa dilakukan.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2 TAHUN:

Pasel berbentuk rumah-rumahan, buah atau binatang dengan 2-3 pecahan. Untuk menyusun pasel tersebut tentu dibutuhkan keterampilan sehingga anak akan dirangsang untuk mengembangkan kemampuannya.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2,5-3 TAHUN:

  1. Bila sebelumnya pasel yang diberikan hanya terdiri atas beberapa keping saja, kini tingkatkan dengan pasel yang memiliki lebih banyak keping.
  2. Permainan rancang bangun juga sudah bisa diberikan untuk merangsang koordinasi motoriknya. Anak sudah bisa membuat susunan bangunan ke atas sambil mengimajinasikan bentuk apa yang sedang dibuatnya meskipun masih belum terbentuk jelas. Ketika anak mampu bermain rancang bangun, pujilah apa yang sudah dihasilkannya. Meskipun bentuknya hanya berupa susunan balok yang tidak beraturan, kita tetap harus memberikan apresiasi agar anak merasa dihargai. Hindari sikap mencemooh yang akan memerosotkan motivasinya dalam berkreasi.

APA YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MEMBELI?

Membeli mainan edukatif memang perlu selektif. Kita harus menyesuaikan dengan usia anak dan kemampuan yang dimilikinya. Berikut panduannya:

MAINAN ANAK 1 TAHUN:
Di usia batita awal anak belum memiliki kemampuan motorik yang baik. Jadi kemampuan dasar inilah yang perlu dilatih. Namun permainan untuknya haruslah sederhana dan tidak terlalu menyita waktu. Selalu dampingi si kecil saat bermain.

MAINAN ANAK 2 TAHUN:
Derajat kesulitan mainan edukatif untuk anak usia dua tahun sudah harus lebih tinggi ketimbang anak satu tahun. Bila sebelumnya yang diberikan adalah single puzzle, maka di usia ini anak bisa diajak bermain pasel dengan bentuk yang lebih kompleks.

MAINAN ANAK 2,5 3 TAHUN:
Permainan edukatif yang kita berikan harus lebih tinggi lagi tingkat kerumitannya. Di usia ini anak perlu belajar mengorganisasi bagian-bagian yang terpisah menjadi satu kembali, anak juga dituntut untuk mulai belajar tekun menggunakan berbagai kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

APAKAH HARGA MAINAN EDUKATIF PASTI TERJANGKAU?

Tentu saja. Mainan edukatif tak mesti didapat dengan harga selangit. Kita bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekeliling rumah sebagai sarana permainan edukatif. Misalnya, gelas plastik bisa digunakan si kecil untuk ditumpuk-tumpuk. Ini merupakan permainan yang mengasyikkan baginya. Gelasgelas plastik tersebut juga bisa dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar, seperti dus bekas. Aktivitas mandi juga bisa dimanfaatkan sebagai permainan edukatif. Biarkan si kecil memasukkan air ke dalam ember dengan menggunakan ciduk. Semua itu akan melatih berbagai kemampuan dasar anak.

TERAPI LINGKUNGAN

lingkungan

A. Konsep Terapi Lingkungan

            Lingkungan telah didefinisikan dengan berbagai pandangan, lingkungan merujuk pada keadaan fisik, psikologis, dan social diluar batas system, atau masyarakat dimana system itu berada (Murray Z., 1985).

 Pengertian Terapi Lingkungan (Milieu Therapy):

Berasal dari bahasa Perancis yang berarti perencanaan ilmiah dari lingkungan untuk tujuan yang bersifat terapeutik atau mendukung kesembuhan.

Pengertian lainnya adalah tindakan penyembuhan pasien melalui manipulasi dan modifikasi unsure-unsur yang ada pada lingkungan dan berpengaruh positif terhadap fisik dan psikis individu serta mendukung proses penyembuhan.

Tujuan Terapi Lingkungan:

Membantu Individu untuk mengembangkan rasa harga diri, mengembangkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, membantu belajar mempercayai orang lain, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat.

Menurut Stuart dan Sundeen:

–   Meningkatkan pengalaman positif pasien khususnya yang mengalami gangguan mental, dengan cara membantu individu dalam mengembangkan harga diri.

–   Meningkatkan kemampuan untuk berhubungan denagan orang lain

–   Menumbuhkan sikap percaya pada orang lain

–   Mempersiapkan diri kembali ke masyarakat, dan

–   Mencapai perubahan yang positif

 

Karakteristik Terapi Lingkungan:

Lingkungan harus bersifat terapeutik yaitu: mendorong terjadi proses penyembuhan, lingkungan tersebut harus memiliki karakteristik sbb:

a. Pasien merasa akrab dengan lingkungan yang diharapkannya.

b. Pasien merasa senang /nyaman.dan tidak merawsa takut dengan lingkungannya.

c. Kebutuhan-kebutuhan fisik pasien mudah dipenuhi

d. Lingkungan rumah sakit/bangsal yang bersih

e. Lingkungan menciptakan rasa aman dari terjadinya luka akibat impuls-impuls pasien.

f.  Personal dari lingkungan rumah sakit/bangsal menghargai pasien sebagai individu yang

memiliki hak, kebutuhan dan pendapat serta menerima perilaku pasien sebagai respon adanya stress.

g. Lingkungan yang dapat mengurangi pembatasan-pembatasan atau larangan dan memberikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan pilihannya dan membentuk perilaku yang baru.

Disamping hal tersebut terapi lingkungan harus memilki karakteristik:

– Memudahkan perhatian terhadap apa yang terjadi pada individu dan kelompok selama 24jam

– Adanya proses pertukaran informasi.

– Pasien merasakan keakraban dengan lingkungan.

– Pasien merasa senang, nyaman, aman, dan tidak meraswa takut baik dari ancaman

psikologis    maupun ancaman fisik.

– Penekanan pada sosialisasi dan interaksi kelompok dengan focus komunikasi terapeutik.

– Staf membagi tanggung jawab bersama pasien.

– Personal dari lingkungan manghargai klien sebagai individu yang memiliki hak, kebutuhan,  dan tanggung jawab.

– Kebutuhan fisik klien mudah terpenuhi.

 

Lingkungan Fisik

Aspek terapi lingkungan meliputi semua gambaran yang konkrit yang merupakan bagian eksternal kehidupan rumah sakit. Setting-nya meliputi :

–         Bentuk dan struktur bangunan.

–         Pola interaksi antara masyarakat dengan rumah sakit.

Tiga aspek yang mempengaruhi terwujudnya lingkungan fisik terapeutik:

1. Lingkungan fisik yang tetap.

2. Lingkungan fisik semi tetap.

3.Lingkungan fisik tidak tetap.

1. Lingkungan Fisik Tetap

Mencakup struktur dari bentuk bangunan baik eksternal maupun internal. Bagian eksternal meliputi struktur luar rumah sakit, yaitu lokasi dan letak gedung sesuai dengan program pelayanan kesehatan jiwa, salah satunya kesehatan jiwa masyarakat. Berada di tengah-tengah pemukiman penduduk atau masyarakat sekitarnya serta tidak diberi pagar tinggi. Hal ini secara psikologis diharapkan dapat membantu memelihara hubungan terapeutik pasien dengan masyarakat. Memberikan kesempatan pada keluarga untuk tetap mengakui keberadaan pasien serta menghindari kesan terisolasi.

Bagian internal gedung meliputi penataan struktur sesuai keadaan rumah tinggal yang dilengkapi ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi tertutup, WC, dan ryang makan. Masing-masing ruangan tersebut diberi nama dengan tujuan untuk memberikan stimulasi pada pasien khususnya yang mengalami gangguan mental, merangsang memori dan mencegah disorientasi ruangan.

Setiap ruangan harus dilengkapi dengan jadwal kegiatan harian, jadwal terapi aktivitas kelompok, jadwal kunjungan keluarga, dan jadwal kegiatan khusus misalnya rapat ruangan.

 

2. Lingkungan Fisik Semi Tetap

Fasilitas-fasilitas berupa alat kerumahtanggaan meliputi lemari, kursi, meja, peralatan dapur, peralatan makan, mandi, dsb. Semua perlengkapan diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan pasien bebas berhubungan satu dengan yang lainnya serta menjaga privasi pasien.

3. Lingkungan Fisik Tidak Tetap

      Lebih ditekankan pada jarak hubungan interpersonal individu serta sangat dipengaruhi oleh social budaya.

Lingkungan Psikososial

Lingkungan yang kondusif yaitu fleksibel dan dinamis yang memungkinkan pasien berhubungan dengan orang lain dan dapat mengambil keputusan serta toleransi terhadap tekanan eksternal.

Beberapa prinsip yang perlu diyakini petugas kesehatan dalam berinteraksi dengan pasien:

–  Tingkah laku dikomunikasikan dengan jelas untuk mempertahankan, mengubah tingkah laku pasien.

–   Penerimaan dan pemeliharaan tingkah laku pasien tergantung dari tingkah laku partisipasi petugas kesehatan dan keterlibatan pasien dalam kegiatan belajar.

–   Perubahan tingkah laku pasien tergantung pada perasaan pasien sebagai anggota kelompok dan pasien dapat mengikuti atau mengisi kegiatan.

–   Kegiatan sehari-hari mendorong interaksi antara pasien.

–   Mempertahankan kontak dengan lingkungan misalnya adanya kalender harian dan adanya papan nama dan tanda pengenal bagi petugas kesehatan.

B. PERAN PERAWAT DALAM TERAPI LINGKUNGAN

1.  Pencipta lingkungan yang aman dan nyaman

a. Perawat menciptakan dan mempertahankan iklim/suasana yang akrab, menyenangkan, saling menghargai di antara sesame perawat, petugas kesehatan, dan pasien.

b. Perawat yang menciptakan suasana yang aman dari benda-benda atau keadaan-keadaan yang menimbulkan terjadinya kecelakaan/luka terhadap pasien atau perawat.

c. Menciptakan suasana yang nyaman

d. Pasien diminta berpartisipasi melakukan kegiatan bagi dirinya sendiri dan orang lain seperti yang biasa dilakukan di rumahnya. Misalnya membereskan kamar.

2.  Penyelenggaraan proses sosialisasi:

a. Membantu pasien belajar berinteraksi dengan orang lain, mempercayai orang lain, sehingga meningkatkan harga diri dan berguna bagi orang lain.

b.  Mendorong pasien untuk berkomunikasi tentang ide-ide, perasaan dan perilakunya secara terbuka sesuai dengan aturan di dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

c. Melalui sosialisasi pasien belajar tentang kegiatan-kegiatan atau kemampuan yang baru, dan dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuan dan minatnya pada waktu yang luang.

3.      Sebagai teknis perawatan

Fungsi perawat adalah memberikan/memenuhi kebutuhan dari pasien, memberikan obat-obatan yang telah ditetapkan, mengamati efek obat dan perilaku-perilaku yang menonjol/menyimpang serta mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul dalam terapi tersebut.

4.      Sebagai leader atau pengelola.

Perawat harus mampu mengelola sehingga tercipta lingkungan terapeutik yang mendukung penyembuhan dan memberikan dampak baik secara fisik maupun secara psikologis kepada pasien.

Jenis-jenis Kegiatan Terapi Lingkungan

1.      Terapi rekreasi

Yaitu terapi yang menggunakan kegiatan pada waktu luang, dengan tujuan pasien dapat melakukan kegiatan secara konstruktif dan menyenangkan serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial.

2.      Terapi kreasi seni

Perawat dalam terapi ini dapat sebagai leader atau bekerja sama denagn orang lain yang ahli dalam bidangnya karena harus sesuai dengan bakat dan minat.

a.       Dance therapy/menari

b.      Terapi musik

c.       Terapi dengan menggambar/melukis Dengan menggambar akan menurunkan ketegangan dan memusatkan pikiran yang ada.

d.      Literatur/biblio therapy

Terapi dengan kegiatan membaca seperti novel, majalah, buku-buku dan kemudian

mendiskusikannya. Tujuannya adalah untuk mengembangkan wawasan diri dan bagaimana mengekspresikan perasaan/pikiran dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma yang ada.

3.      Pettherapy

Terapi ini bertujuan untuk menstimulasi respon pasien yang tidak mampu mengadakan hubungan interaksi dengan orang-orang dan pasien biasanya merasa kesepian, menyendiri.

4.      Planttherapy

Terapi ini bertujuan untuk mengajar pasien untuk memelihara segala sesuatu/mahluk hidup, dan membantu hubungan yang akrab antara satu pribadi kepada pribadi lainnya.

 

 Terapi Lingkungan pada Kondisi Khusus

a. Pasien rendah diri (low self esteem) , depresi (depression) bunuh diri (suicide).

Syarat lingkungan secara psikologis harus memenuhi hal-hal sbb:

– Ruangan aman dan nyaman.

– Terhindar dari ala-alat yang dapat digunakan untuk mencederai diri sendiri atau orang lain.

–  Alat-alat medis, obat-obatan, dan jenis cairan medis di lemari dalam keadaan terkunci.

–  Ruangan harus ditempatkan di lantai satu dan keseluruhan ruangan mudah dipantau oleh petugas kesehatan.

–  Tata ruangan menarik dengan cara menempelkan poster yang cerah dan meningkatkan gairah hidup pasien.

–  Warna dinding cerah.

–  Adanya bacaan ringan, lucu, dan memotivasi hidup.

–  Hadirkan musik ceria, tv, dan film komedi.

–  Adanya lemari khusus untuk menyimpan barang-barang pribadi pasien.

Lingkungan sosial:

–  Komunikasi terapeutik dengan cara semua petugas menyapa pasien sesering mungkin.

–  Memberikan penjelasan setiap akan melakukan kegiatan keperawatan atau kegiatan medis lainnya.

–  Menerima pasien apa adanya jangan mengejek serta merendahkan.

–  Meningkatkan harga diri pasien.

–  Membantu menilai dan meningkatkan hubungan social secara bertahap.

–  Membantu pasien dalam berinteraksi dengan keluarganya.

–  Sertakan keluarga dalam rencana asuhan keperawatan, jangan membiarkan pasien sendiri terlalu lama di ruangannya.

Pasien dengan amuk.

Lingkungan fisik:

–  Ruangan aman, nyaman, dan mendapat pencahayaan yang cukup.

–  Pasien satu kamar, satu orang, bila sekamar lebih dari satu jangan dicampur antara yang kuat dengan yang lemah.

–  Ada jendela berjeruji dengan pintu dari besi terkunci.

–  Tersedia kebijakan dan prosedur tertulis tentang protocol pengikatan dan pengasingan secara aman, serta protocol pelepasan pengikatan.

Lingkungan Psikososial:

–  Komunikasi terapeutik, sikap bersahabat dan perasaan empati.

–  Observasi pasien tiap 15 menit.

–  Jelaskan tujuan pengikatan/pengekangan secara berulang-ulang.

–   Penuhi kebutuhan fisik pasien.

–   Libatkan keluarga.

TINGKAT KESADARAN

kesadaran 

Pengertian

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :

  1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
  2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
  3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
  4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
  5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
  6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Penyebab Penurunan Kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika

  1. Otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia)
  2. Kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok)
  3. Penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis)
  4. Pada keadaan hipo atau hipernatremia
  5. Dehidrasi; asidosis, alkalosis
  6. Pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak)
  7. Infeksi (encephalitis); epilepsi.

Mengukur Tingkat Kesadaran

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.

Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive).

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP)

 Orientasi Pasien Baru :

Konfrensi

  1. Operan
  2. Ronde Keperawatan
  3. Presentase Kasus

Pra Interaksi :

  1. Mencari Informasi ttg nama,umur,alamat& riw.Medis
  2. Mempelajari catatan status Kesehatan klien
  3. Menjelaskan pd PA ttg klien baru yg akn mjd t.jawab tim
  4. Menginformasikan Dr/Tim Kes lainnya yg b’T.Jawab trhadap Kes Klien
  5.  Menyiapkan diri untuk interaksi

 

1. ORIENTASI PASIEN BARU :

Orientasi pasien baru merupakan kontrak antara perawat dank lien / keluarga dimana terdapat kesepakatan antara perawat dengan klien/keluarganya dalam memberikan Asuhan keperawatan.Kontrak ini diperlukan agar hubungan saling percaya antara perawat dan klien / keluarga dapat terbina ( Trust )

Hal – hal yang perlu diperhatikan :

  1. Orientasi dilakukan saat pertama kali oleh klien datang ( 24 jam pertama ) dan kondisi klien sudah tenang.
  2. Orientasi dilakukan oleh PP.Bila PP tidak ada PA dapat memberikan orientasi untuk klien dan keluarga, selanjutnya orientasi harus dilengkapi kembali oleh PP sesegera mungkin.Hal ini penting karena PP yang bertanggung jawab terhadap semua kontrak atau orientasi yang dilakukan
  3. Orientasi diberikan pada klien dan didampingi anggota keluarga yang dilakukan dikamar klien dengan menggunakan format orientasi.Selanjutnya klien diinformasikan untuk membaca lebigh lengkap format orientasi yang ditempelkan dikamar klien
  4. Setelah orientasi , berikan daftar nama tim atau badge kepada klien dan keluarga kemudian gantungkan daftar nama tersebut pada laci klien
  5. Orientasi ini diulang kembali minimal setiap dua hari oleh PP atau yang mewakili, terutama tentang daftar nama tim yang sudah diberikan , sekaligus menginformasi kan perkembangan kondisi keperawatan klien dengan mengidentifikasi kebutuhan klien.
  6. Pada saat penggantian dinas ( dikamar klien ),ingatkan klien nama perawat yang bertugas saat itu,bila perlu anjurkan klien atau keluarga melihat pada daftar nama tim.

2. OPERAN / TIMBANG TERIMA

Adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan klien, bertujuan :

a. Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien

b. Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya

c. Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya.

 

Prosedur timbang terima

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi :

1. Persiapan

a. kedua kelompok dalam keadaan siap

b. Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan

 

2. Pelaksanaan

Dalam penerapannya, dilakukan timbang terima kepada masing-masing penanggung jawab:

a. Timbang terima dilaksanakan setiap penggantian shift/operan

b. Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan.

c. Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat yang berikutnya

 

4. Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :

1). Identitas klien dan diagnosa medik

2) Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul

3). Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan

4). Intervensi kolaborasi dan dependensi

5). Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya, misalnya operasi, pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya, persiapan untuk konsultasi atau prosedur lainnya yang tidak dilaksanakan secara rutin.

 

5. Perawat yang melakukan timbang terima daat melakukan klarifikasi, tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas

6. Penyampaan pada saat timbang terima secara singkat dan jelas

7. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci.

8. Pelaporan untuk timang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan oleh perawat.

9. Penyampaian operan di atas (point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru

10. Perawat penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara langsung melihat keadaan kien.

 

3. KONFRENSI :

Konfrensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari.Konfrensi dilakukan setelah melakukan operan dinas ,sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas PP.Konfrensi sebaiknya dilakukan ditempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar, Konfrensi bertujuan untuk :

a. Membahas masalah setiap klien berdasarkan renpra yang telah dibuat oleh PP

b. Menetapkan klien yang menjadi tanggung jawab masing – masing PA

c. Membahas rencana tindakan keperawatan untuk setiap klien pada hari itu.Rencana tindakan didasarkan pada renpra yang ditetapkan oleh PP

d. Mengidentifikasi tugas PA untuk setiap klien yang menjadi tanggung jawabnya.

 

Kegiatan dalam Konfrensi :

· Keadaan Umum Klien

· Keluhan Utama

· TTV dan Kesadaran

· Hasil pemeriksaan Laboratorium/diagnostik terbaru

 

· Masalah Keperawatan

· Renpra hari ini

· Perubahan terapi medis

· Rencana Medis

 

2. PP mendiskusikan dan mengarahkan PA tentang masalah yang terkait dengan keperawata lien meliputi : Keluhan klien yang terkait dengan pelayanan,seperti:keterlambatan,kesalahan pemberian makan,kebisingan pengunjung lain,ketidakhadiran dokter yang dikonsulkan.

· Ketepatan pemberian infus

· Ketepatan pemantauan asupan haluaran cairan (I/O )

· Ketepatan pemberian oral atau injeksi

· Ketepatan pelaksanaan tindakan lain

· Ketepatan Dokumentasi.

 

1. RONDE KEPERAWATAN

Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping klien dilibatkan untuk mermbahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus terntentu harus dilakukan oleh penanggung jawab jaga dengan melibatkan seluruh anggota tim.

 

a. Karakteristik :

1) Klien dilibatkan secara langsung

2) Klien merupakan fokus kegiatan

3) Perawat aosiaet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama

4) Kosuler memfasilitasi kreatifitas

5) Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet, perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.

 

b. Tujuan :

1) menumbuhkan cara berfikir secara kritis

2) Menumbuhkan pemikran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien

3) Meningkatkan vadilitas data klien

4) Menilai kemampuan justifikasi

5) Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja

6) Meningkatkan kemampuan untuk emodifikasi rencana perawatan.

 

c. Peran

1. Perawat primer dan perawat asosiet

Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain :

 

a). Menjelaskan keadaan dan adta demografi klien

b) Menjelaskan masalah keperawatan utama

c) Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan

d) Menjelaskan tindakan selanjtunya

e) Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil

 

2. Peran perawat primer lain dan atau konsuler

a). Memberikan justifikasi

b). Memberikan reinforcement

c).Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta,tindakan yang rasional,

d). Mengarahkan dan koreksi

e). Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari

 

d. Pesiapan

1). Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde

2). Pemberian informed consent kepada klien/keluarga

 

e. Pelaksanaan Ronde

1). Penjelasan tentang klien oleh Perawat dalam hal ini penjelasan difokuskan 2). pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan

2). Pemberian justifikasi oleh perawat tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan

3). Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan

f. Pasca Ronde

Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menerapkan tindakan yang perlu dilakukan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sitorus Ratna, Yulia, 2005, Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit Panduan Implementasi,. EGC, Jakarta

 

Ratna Sitorus, 2005, Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit,. EGC, Jakarta

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN STROKE

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I.          Konsep Dasar

1   Pengertian

Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)

Perdarahan intracerebral adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan olek karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. (UPF, 1994)

2      Anatomi fisiologi

a      Otak

Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun   neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara, 1998)

Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.

Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.

Bagian-bagian batang otak dari bawak ke atas adalah medula oblongata, pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.

Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus  berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi. (Sylvia A. Price, 1995)

b     Sirkulasi darah otak

Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Da dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis,  yaitu sirkulus Willisi.(Satyanegara, 1998)

Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri.

Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini jmemperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri  serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. (Sylvia A. Price, 1995)

Darah di dalam jaringan kapiler otak akan dialirkan melalui venula-venula (yang tidak mempunyai nama) ke vena serta di drainase ke sinus duramatris. Dari sinus, melalui vena emisaria akan dialirkan ke vena-vena ekstrakranial. (Satyanegara, 1998)

3    Patofisiologi

Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola yang berdiameter 100-400 mcmeter mengalami perubahan patologik pada dinding pembuluh darah tersebut berupa hipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Arteriol-arteriol dari cabang-cabang lentikulostriata, cabang tembus arteriotalamus dan cabang-cabang paramedian arteria vertebro-basilar mengalami perubahan-perubahan degeneratif yang sama. Kenaikan darah yang “abrupt” atau kenaikan dalam jumlah yang secara mencolok dapat menginduksi pecahnya pembuluh darah terutama pada pagi hari dan sore hari.

Jika pembuluh darah tersebut pecah, maka perdarahan dapat berlanjut sampai dengan 6 jam dan jika volumenya besarakan merusak struktur anatomi otak dan menimbulkan gejala klinik.

Jika perdarahan yang timbul kecil ukurannya, maka massa darah hanya dapat merasuk dan menyela di antara selaput akson massa putih tanpa merusaknya. Pada keadaan ini absorbsi darah akan diikutioleh pulihnya fungsi-fungsi neurologi. Sedangkan pada perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak, peninggian tekanan intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada falk serebri atau lewat foramen magnum.

Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons.

Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan mengakibatkan peningian tekanan intrakranial dan mentebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak.

Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi. Jumlah darah yang keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam dan 71 % pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal. (Jusuf Misbach, 1999)

4    Dampak masalah

a    Pada individu

1)   Gangguan perfusi jaringan otak

Akibat adanya sumbatan pembuluh darah otak, perdarahan otak, vasospasme serebral, edema otak

2)    Gangguan mobilitas fisik

Terjadi karena adanya kelemahan, kelumpuhan dan menurunnya persepsi / kognitif

3)    Gangguan komunikasi verbal

Akibat menurunnya/ terhambatnya sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler, kelemahan otot wajah

4)    Gangguan nutrisi

Akibat adanya kesulitan menelan, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, nafsu makan yang menurun

5)    Gangguan eliminasi uri dan alvi

Dapat terjadi akibat klien tidak sadar, dehidrasi, imobilisasi dan hilangnya kontrol miksi

6)    Ketidakmampuan perawatan diri

Akibat adanya kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kehilangan koordinasi / kontrol otot, menurunnya persepsi kognitif.

7)    Gangguan psikologis

Dapat berupa emosi labil, mudah marah, kehilangan kontrol diri, ketakutan, perasaan tidak berdaya dan putus asa.

8)     Gangguan penglihatan

Dapat terjadi karena penurunan ketajaman penglihatan dan gangguan lapang pandang.

b      Pada keluarga

1)    Terjadi kecemasan

2)     Masalah biaya

3)     Gangguan dalam pekerjaan

 

  1. B.  Asuhan Keperawatan

1      Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan. (Lismidar, 1990)

a    Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien. (Marilynn E. Doenges et al, 1998)

1)  Identitas klien

Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.

2)  Keluhan utama

Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi. (Jusuf Misbach, 1999)

3)  Riwayat penyakit sekarang

Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. (Siti Rochani, 2000)

4)  Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan. (Donna D. Ignativicius, 1995)

5)  Riwayat penyakit keluarga

Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus. (Hendro Susilo, 2000)

6)  Riwayat psikososial

Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.

7)    Pola-pola fungsi kesehatan

a)    Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.

b)   Pola nutrisi dan metabolisme

Adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut.

c)   Pola eliminasi

Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.

d)   Pola aktivitas dan latihan

Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah

e)   Pola tidur dan istirahat

Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot

f)   Pola hubungan dan peran

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.

g)  Pola persepsi dan konsep diri

Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.

h)  Pola sensori dan kognitif

Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.

i)   Pola reproduksi seksual

Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.

j)  Pola penanggulangan stress

Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.

k)  Pola tata nilai dan kepercayaan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

8)  Pemeriksaan fisik

a)  Keadaan umum

(1)  Kesadaran : umumnya mengelami penurunan kesadaran

(2)  Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara

(3)  Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi

b)   Pemeriksaan integumen

(1)   Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3 minggu

(2)   Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

(3)   Rambut : umumnya tidak ada kelainan

c)    Pemeriksaan kepala dan leher

(1)   Kepala : bentuk normocephalik

(2)   Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi

(3)   Leher : kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)

d)    Pemeriksaan dada

Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan.

e)   Pemeriksaan abdomen

Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.

f)   Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine

g)  Pemeriksaan ekstremitas

Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

h)  Pemeriksaan neurologi

(1)   Pemeriksaan nervus cranialis

Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.

(2)   Pemeriksaan motorik

Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.

(3)   Pemeriksaan sensorik

Dapat terjadi hemihipestesi.

(4)   Pemeriksaan refleks

Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.(Jusuf Misbach, 1999)

9)   Pemeriksaan penunjang

a)  Pemeriksaan radiologi

(1)   CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993)

(2)   MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000)

(3)  Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998)

(4)  Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke. (Jusuf Misbach, 1999)

b)   Pemeriksaan laboratorium

(1)  Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998)

(2)  Pemeriksaan darah rutin

(3)  Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalajm serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf Misbach, 1999)

(4)  Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi Widjaja, 1993)

b    Analisa data

Analisa data merupakan kegiatan intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, mengklasifikasi, mengelompokkan, mengkaitkan data dan akhirnya menarik kesimpulan.

c    Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan merupaka suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien dapat ditanggulangi atau dikurangi. (Lismidar, 1990)

1)   Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral. (Marilynn E. Doenges, 2000)

2)   Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia (Donna D. Ignativicius, 1995)

3)   Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan sensori, penurunan penglihatan ( Donna D. Ignativicius, 1995)

4)   Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak (Donna D. Ignativicius, 1995)

5)   Gangguan eliminasi alvi(konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat (Donna D. Ignativicius, 1995)

6)   Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan ( Barbara Engram, 1998)

7)   Kurangnya pemenuhan perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi (Donna D. Ignativicius, 1995)

8)   Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama (Barbara Engram, 1998)

9)   Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk dan menelan.(Lynda Juall Carpenito, 1998)

10)  Gangguan eliminasi uri (inkontinensia uri) yang berhubungan dengan lesi pada upper motor neuron (Lynda Juall Carpenito, 1998)

2    Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan maka perlu dibuat perencanaan intervensi keperawatan dan aktivitas keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahapan perencanaan keperawatan klien adalah penentuan prioritas diagnosa keperawatan,penetuan tujuan, penetapan kriteria hasil dan menntukan intervensi keperawatan.

 

Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah :

a  Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intra cerebral

1)   Tujuan :

Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal

2)   Kriteria hasil :

–    Klien tidak gelisah

–    Tidak ada keluhan nyeri kepala, mual, kejang.

–    GCS  4-5-6

–     Pupil isokor, reflek cahaya (+)

–     Tanda-tanda vital normal(nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7 C, pernafasan 16-20 kali permenit)

3)     Rencana tindakan

a)    Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab peningkatan TIK dan akibatnya

b)     Anjurkan kepada klien untuk bed rest totat

c)     Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelain tekanan intrakranial tiap dua jam

d)     Berikan posisi kepala lebib tinggi 15-30 dengan letak jantung ( beri bantal tipis)

e)     Anjurkan klien untuk menghindari batukdan mengejan berlebihan

f)      Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung

g)     Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor

 

4)      Rasional

a)      Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan

b)      Untuk mencegah perdarahan ulang

c)      Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat

d)      Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan draimage vena dan memperbaiki sirkulasi serebral

e)      Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang

f)      Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan kenaikan TIK. Istirahat total dan ketenagngan mingkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik / perdarahan lainnya

g)      Memperbaiki sel yang masih viabel

 

b       Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia

1)      Tujuan :

Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya

2)     Kriteria hasil

–      Tidak terjadi kontraktur sendi

–      Bertabahnya kekuatan otot

–      Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

3)    Rencana tindakan

a)    Ubah posisi klien tiap 2 jam

b)    Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit

c)   Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit

d)   Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya

e)   Tinggikan kepala dan tangan

f)    Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuklatihan fisik klien

 

4)   Rasional

a)   Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan

b)  Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan

c)   Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan

 

c    Gangguan persepsi sensori baerhubungan dengan penurunan sensori penurunan penglihatan

1)   Tujuan :

Meningkatnya persepsi sensorik secara optimal.

2)    Kriteria hasil :

–     Adanya perubahan kemampuan yang nyata

–    Tidak terjadi disorientasi waktu, tempat, orang

3)   Rencana tindakan

a)   Tentukan kondisi patologis klien

b)   Kaji gangguan penglihatan terhadap perubahan persepsi

c)   Latih klien untuk melihat suatu obyek dengan telaten dan seksama

d)   Observasi respon perilaku klien, seperti menangis, bahagia, bermusuhan, halusinasi setiap saat

e)    Berbicaralah dengan klien secara tenang dan gunakan kalimat-kalimat pendek

4)    Rasional

a)    Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan, sebagai penetapan rencana tindakan

b)   Untuk mempelajari kendala yang berhubungan dengan disorientasi klien

c)    Agar klien tidak kebingungan dan lebih konsentrasi

d)    Untuk mengetahui keadaan emosi klien

e)    Untuk memfokuskan perhatian klien, sehingga setiap masalah dapat dimengerti.

 

d     Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak

1).  Tujuan

Proses komunikasi klien dapat berfungsi secara optimal

2)    Kriteria hasil

–     Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien dapat dipenuhi

–     Klien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal maupun isarat

3)    Rencana tindakan

a)    Berikan metode alternatif komunikasi, misal dengan bahasa isarat

b)     Antisipasi setiap kebutuhan klien saat berkomunikasi

c)     Bicaralah dengan klien secara pelan dan gunakan pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak”

d)     Anjurkan kepada keluarga untuk tetap berkomunikasi dengan klien

e)      Hargai kemampuan klien dalam berkomunikasi

f)      Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan wicara

4)     Rasional

a)     Memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai dengan kemampuan klien

b)     Mencegah rasa putus asa dan ketergantungan pada orang lain

c)     Mengurangi kecemasan dan kebingungan pada saat komunikasi

d)     Mengurangi isolasi sosial dan meningkatkan komunikasi yang efektif

e)     Memberi semangat pada klien agar lebih sering melakukan komunikasi

f)      Melatih klien belajar bicara secara mandiri dengan baik dan benar

 

e      Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi

1)     Tujuan

Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi

2)     Kriteria hasil

–       Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien

–       Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan

3)     Rencana tindakan

a)    Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri

b)    Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguh

c)    Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan

d)    Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau keberhasilannya

e)    Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi

4)    Rasional

a)    Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual

b)   Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus

c)   Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk emepertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan

d)   Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara kontinyu

e)   Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus

 

f     Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan

1)   Tujuan

Tidak terjadi gangguan nutrisi

2)   Kriteria hasil

–    Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan

–    Hb dan albumin dalam batas normal

3)  Rencana tindakan

a)  Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk

b)  Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, seama dan sesudah makan

c)  Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah gagu jika dibutuhkan

d)  Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu

e)  Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang

f)   Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat menelan air

g)   Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan

h)  Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan

i)   Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv  atau makanan melalui selang

4)   Rasional

a)   Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien

b)   Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi

c)   Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler

d)   Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan

e)   Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar

f)    Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan terjadinya aspirasi

g)   Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan merunkan resiko terjadinya tersedak

h)   Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan

i)    Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut

 

g    Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat

1)   Tujuan

Klien tidak mengalami kopnstipasi

2)   Kriteria hasil

–     Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat

–     Konsistensifses lunak

–    Tidak teraba masa pada kolon ( scibala )

–     Bising usus normal ( 15-30 kali permenit )

3)   Rencana tindakan

a)   Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab konstipasi

b)   Auskultasi bising usus

c)   Anjurkan pada klien untuk makan maknanan yang mengandung serat

d)   Berikan intake cairan yang cukup (2 liter perhari) jika tidak ada kontraindikasi

e)   Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien

f)    Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses (laxatif, suppositoria, enema)

4)   Rasional

a)   Klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab obstipasi

b)   Bising usu menandakan sifat aktivitas peristaltik

c)   Diit seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi reguler

d)   Masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler

e)   Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus oto abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltik

f)    Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus, yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi

 

h    Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama

1)  Tujuan

Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit

2)  Kriteria hasil

– Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka

– Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka

– Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka

3)   Rencana tindakan

a)   Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range of motion) dan mobilisasi jika mungkin

b)  Rubah posisi tiap 2 jam

c)  Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah yang menonjol

d)  Lakukan massage pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu berubah posisi

e)  Observasi terhadap eritema dan kepucatan dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap merubah posisi

f)  Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma, panas terhadap kulit

4)  Rasional

a)  Meningkatkan aliran darah kesemua daerah

b)  Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah

c)  Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah yang menonjol

d)  Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler

e)  Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan

f)   Mempertahankan keutuhan kulit

 

i    Resiko terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan menurunnya refleks batuk dan menelan, imobilisasi

1)   Tujuan :

Jalan nafas tetap efektif.

2)   Kriteria hasil :

–     Klien tidak sesak nafas

–    Tidak terdapat ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan

–     Tidak retraksi otot bantu pernafasan

–     Pernafasan teratur, RR 16-20 x per menit

3)   Rencana tindakan :

a)   Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang sebab dan akibat ketidakefektifan jalan nafas

b)   Rubah posisi tiap 2 jam sekali

c)   Berikan intake yang adekuat (2000 cc per hari)

d)   Observasi pola dan frekuensi nafas

e)   Auskultasi suara nafas

f)    Lakukan fisioterapi nafas sesuai dengan keadaan umum klien

4)   Rasional :

a)   Klien dan keluarga mau berpartisipasi dalam mencegah terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas

b)   Perubahan posisi dapat melepaskan sekret darim saluran pernafasan

c)  Air yang cukup dapat mengencerkan sekret

d) Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan nafas

e)  Untuk mengetahui adanya kelainan suara nafas

f)   Agar dapat melepaskan sekret dan mengembangkan paru-paru

j   Gangguan eliminasi uri (incontinensia uri) yang berhubungan dengan kehilangan tonus kandung kemih, kehilangan kontrol sfingter, hilangnya isarat berkemih.

1)  Tujuan :

Klien mampu mengontrol eliminasi urinya

2)  Kriteria hasil :

–   Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya inkontinensia

–   Tidak ada distensi bladder

3) Rencana tindakan :

a)  Identifikasi pola berkemih dan kembangkan jadwal berkemih sering

b)  Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari

c)  Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih (rangsangan kutaneus dengan penepukan suprapubik, manuver regangan anal)

d)  Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi waktu antara berkemih pada jadwal yang telah direncanakan

e)  Berikan penjelasan tentang pentingnya hidrasi optimal (sedikitnya 2000 cc per hari bila tidak ada kontraindikasi)

4)   Rasional :

a)   Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan dari distensi kandung kemih yang berlebih

b)   Pembatasan cairan pada malam hari dapat membantu mencegah enuresis

c)  Untuk melatih dan membantu pengosongan kandung kemih

d)  Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung volume urine sehingga memerlukanuntuk lebih sering berkemih

e)  Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.

3   Pelaksanaan

Pelaksanaan asuhan keperawatan ini merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan yang diberikan pada klien.

4   Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang. (Lismidar, 1990)

ASUHAN KEPERAWATAN MIOMA UTERI

 

  1. A.      Pengertian
    1. Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya (Wiknjosastro, 2007:338).
    2. Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya. Sehingga dapat dalam bentuk padat karena jaringan ikatnya, dominan dan lunak sehingga otot rahimnya dominan (Manuaba, 1998:409).
    3. Mioma uteri adalah pertumbuhan tumor jinak dari sel-sel polos imatur yang namanya diberikan sesuai dengan lokasinya di uterus (Hamilton, 1995:106).
  1. B.       Etiologi
    1. Penyebab mioma uteri belum jelas, disangka berasal dari :
    2. Wanita estrogenik yang menyebabkan sel-sel yang imatur/belum matang
    3. Faktor keturunan (Wiknjosastro, 2007:339).
      1. Predisposisi
      2. Kulit hitam lebih banyak
        1. Terjadi pada wanita sekitar umur 34-35 tahun (tidak pernah terjadi pada wanita yang sudah menopause)
        2. Nulipara/kurang subur (Wiknjosastro, 2007:338).
  1. C.      Patogenesis

Moyer dan de snoo mengajukan teori cell nest atau teori genitoblast. Percobaan lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci, percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromaltosa baik kepada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek fibromatosa maupun ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron atau testosteron. Puuka dan kawan-kawan menyatakn bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih banyak didapat dari pada miometrium normal (Wiknjosastro, 2006:338).

  1. D.      Lokasi Terjadinya Mioma

Menurut Manuaba, (1998:410) :

  1. Mioma sub serosa

Mioma ini tumbuh dibawah lapisan peritoneum, dapat bertangkai dan melayang dalam cavum abdomen

  1. Intramural

Terletak pada mimetrium. Kalau besar atau multipel dapat menyebabkan

pembesaran uterus dan berbenjol-benjol

  1. Mioma sub mukosa

Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus

  1. Servikal mioma

Mioma tumbuh didaerah serviks uteri

  1. E.       Perubahan Sekunder Pada Mioma Uteri

Menurut Wiknjosastro, (2007:340) :

  1. Atrofi

Sesudah menopause/sesudah kehamilan mioma uteri menjadi kecil.

  1. Degenerasi hyalin

Terjadi pada usia lanjut dimana tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen.

  1. Degenerasi kistik

Mioma menjadi cair sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar dengan konsistensi lunak.

  1. Denegerasi membantu/calcireous degeneration

Terjadi pada usia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi dengan adanya pengendapan garam kapur sehingga mioma menjadi keras yang dengan pemeriksaan rontgen dapat dilihat.

  1. Degenerasi merah/carneous degeneration

Biasa terjadi pada kehamilan dan nifas yang diperkirakan karena suatu nekrosis sub akut sebagai gangguan sirkulasi.

  1. Degenerasi lemak

Jarang terjadi sebagai kelanjutan dari degenerasi hialin

  1. F.       Gejala Klinis Mioma Uteri

Menurut Manuaba, (1998:410) :

  1. Perdarahan tidak normal

Hipermenorea perdarahan banyak saat menstruasi karena meluasnya permukaan endometrium dalam proses menstruasi, gangguan kontraksi otot rahim, perdarahan berkepanjangan. Akibat perdarahan penderita dapat mengeluh anemis karena kekurangan darah, pusing, cepat lelah, dan mudah terjadi infeksi.

  1. Penekanan rahim yang membesar

Dapat mengakibatkan terasa berat di abdomen bagian bawah, sukar miksi/defekasi, terasa nyeri karena tertekannya urat saraf.

  1. G.      Diagnosis

Sering kali penderita sendiri mengeluh akan rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah. Pemeriksaan bimanual akan mengungkapkan tumor padat uterus, yang umumnya terletak digaris tengah atapun agak ke samping, seringkali teraba berbenjol-benjol. Mioma sub mukosum dapat mempunyai tangkai yang berhubungan dengan uterus. Mioma intramural akan menyebabkan kavum uteri menjadi luas, yang ditegakkan dengan pemeriksaan dengan uterus sonde. Mioma sub mukosum kadang kala dapat teraba dengan jari yang masuk kedalam kanalis servikalis, dan terasanya benjolan pada permukaan kavum uteri.

Diagnosis banding yang perlu kita pikirkan tumor abdomen dibagian bawah atau panggul ialah mioma subserosum dan kehamilan, mioma submukosum yang dilahirkan harus dibedakan dengan inversio uteri : mioma intramural harus dibedakan dengan suatu adenomiosis, khoriokarisinoma, karsinoma korposis uteri atau sarkoma uteri. USG abdominal dan transvaginal dapat membantu dan menegakkan dugaan klinis (Wiknjosastro, 2007:344).

  1. H.      Komplikasi Mioma Uteri

Menurut Wiknjosastro, (2007:340) yaitu:

  1. Degenerasi ganas

Keganasan umumnya terjadi ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.

  1. Torsi (putaran tangkai)

Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis, sehingga terjadi sindrom abdomen akut. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya.

  1. I.         Tindakan Pada Mioma Uteri

Menurut Wiknjosastro, (2006:345) yaitu:

  1. Pengobatan

Tidak semua myoma uteri memerlukan pengobatan bedah 55% dari semua myoma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun, terutama apabila myoma uteri itu masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan/keluhan.Dalam dakade terakhir ada usaha mengobati myoma uteri dengan GnRHa. Hal ini didasarkan atas pemikiran Leioma bahwa pada myoma uteri terdiri atas sel-sel otot yang diperkirakan dipengaruhi oleh estrogen. Pemberian GnRHa selama 16 minggu pada myoma uteri menghasilkan degenerasi hialin di miometrium hingga uterus kecil.

  1. Pengobatan operatif

Pengobatan operatif pada myoma uteri dilakukan bila myoma sebesar kehamilan 12-14, minggu, disertai pertumbuhan cepat.

Pengobatan operatif dilakukan dengan :

  1. Myomektomi yaitu pengambilan sarang myoma saja tanpa, pengangkatan uterus. Apabila myomektomi ini dikerjakan karena keinginan memproleh anak, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan 30-50%
  2. Histerectomi yaitu pengakatan uterus perlu didasari bahwa 25-35% dari penderita tersebut akan masih perlu histerectomi. Akhir-akhir ini jarang dikerjakan karena uterus harus lebih kecil dari telur angsa dan tidak ada perlekatan disekitarnya
  3. Radioterapi

Tindakan ini bertjuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga mengalami menopause. Radioterapi hanya dilakukan kalau terdapat kontra indikasi untuk tindakan operatif. Radio terapi hendaknya, hanya dikerjakan apabila tidak ada keganasan pada uterus.

  1. J.      Pengkajian
  2. Data subyektif
    1. Biodata

Umur 35-45 tahun mempunyai resiko terkena mioma uteri (20%) dan jarang terjadi setelah menopause, karena pada menopause estrogen menurun, suku bangsa kulit. Kulit hitam lebih banyak beresikoo terkena mioma daripada kulit putih (Wiknjosastro, 2007:339).

  1. Keluhan Utama

Gejala awal yang dirasakan oleh penderita mioma uteri menurut Wiknjosastro, (2005:342) yaitu :

1)        Perdarahan abnormal (hypermenore, menoragia, metoragie)

2)        Rasa nyeri, akibat gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma yang disertai nekrosis setempat dan peradangan.

3)        Gangguan BAK (poliuri, retensio urine, disuria), hal ini akibat tekanan pada kandung kemih.

4)      Gangguan BAB (obstipasi dan tanesmia), hal ini akibat tekanan pada rectum.

5)      Edema tungkai dan nyeri panggul akibat penekanan pada pembuluh darah dan pembuluh limfe.

  1. Riwayat kesehatan lalu dan sekarang

Pada mioma uteri sering ditemukan pada penderita yang sering mengalami perdarahan (hypermenorrhoe, menorrhagia, metrorrhagia) yang lama dan terus-menerus kadang-kadang disertai rasa nyeri pada perut bagian bawah dan riwayat kontak berdarah dan dysparenia (Hamilton, 1995:18-19).

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Adakah anggota keluarga pasien (ibu, kakak) yang menderita/pernah menderita penyakit yang sama seperti pasien yang berupa perdarahan terus-menerus dan lama karena predisposisi dari mioma adalah faktor keturunan. Pada keluarga adakah riwayat gangguan pembekuan darah yang dapat mengakibatkan perdarahan yang sulit berhenti (Wiknjosastro, 2005:338).

  1. Riwayat kebidanan

Menurut Wiknjosastro, (2005:342) yaitu:

1)        Haid

Pada riwayat haid sering ditemukan adanya hipermenorhea, menoragle, metoragie, dan dysmenorea

2)        Mioma uteri tidak terjadi sebelum menarche.

3)        Setelah menopause banyak mioma menjadi lisut, hanya 10% saja yang masih dapat tumbuh lebih lanjut.

Pengaruh mioma pada kehamilan menurut Wiknjosastro, (2006:421) adalah:

1)        Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil, terutama pada mioma uteri sub mukosium.

2)        Kemungkinan abortus bertambah

3)        Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar dan letak subserus

Pengaruh mioma pada persalinan

1)        Menghalangi lahirnya bayi, terutama pada mioma yang letaknya diserviks

2)        Inersia uteri dan atonia uteri

3)        Mempersulit lahirnya plasenta.

  1. Riwayat KB

KB hormonal dengan kadar estrogen yang tinggi merupakan pencetus terjadinya mioma karena estrogen lebih tinggi kadarnya daripada wanita yang menggunakan KB hormonal (Hartanto, 2003:98).

  1. Pola kebiasaan sehari-hari

1)        Nutrisi

Pada tumor yang berat dapat terjadi nafsu makan turun, rasa sesak dan lain-lain (Wiknjosastro, 1999:347).

2)        Eliminasi

Pola kebiasaan sehari-hari terutama pola eliminasi mengalami perubahan. Perubahan pola BAK dapat berupa polakisuria, dysuria, dan kadang terjadi retensio urine, perubahan pola BAB dapat berupa obstipasi dan tonesmi (Wiknjosastro, 1999:288).

3)        Seksualitas

Perubahan pola seksual dapat berupa kontak berdarah dyspareunia, karena adanya mioma pada alat genetalia interna juga kadang menyebabkan libido menurun (Wiknjosastro, 2007:342).

4)        Aktifitas

Pola aktifitas terganggu akibat rasa nyeri yang timbul (Wiknjosastro, 2007:342).

5)        Kondisi psikososial

Ibu mengalami kecemasan disebabkan karena dampak/gejala yang ditimbulkan oleh adanya penyakit seperti perdarahan, ada benjolan, perdarahan yang terus-menerus dan lama.

6)        Kondisi spiritual

Ibu merasa terganggu dengan adanya perdarahan dan gejala lain dari penyakitnya, terutama bagi pasien yang beragama Islam, tidak dapat/terganggu dalam melaksanakan ibadah.

  1. Data obyektif
    1. Keadaan umum : lemah, anemis
    2. Kesadaran : composmentis sampai somnolen karena perdarahan menimbulkan gangguan keseimbangan cairan.
    3. Tanda-tanda vital

Tensi       :  Dalam keadaan syok hipovolemik akan terjadi penurunan tensi (hipotensi).

Nadi       :  Dalam keadaan syok hipolemik akan terjadi takikardi.

Suhu       :  Dapat normal dan dapat juga terjadi peningkatan suhu apabila sudah ditemukan infeksi/dehidrasi berat.

Nafas      :  Mengalami peningkatan sehubungan dengan gejala sekunder yaitu : sesak nafas karena gangguan sirkulasi O2.

  1. Pemeriksaan fisik

Muka               :  Tampak pucat dan anemis.

Mata                :  Konjungtiva pucat, sklera putih, kelopak mata tidak odem.

Mulut              :  Mukosa mulut dan bibir tampak kering dan pucat. Bau aseton bisa terjadi bila telah terjadi asidosis akibat dehidrasi/shock hipolemik yang hebat.

Dada               :  Gerakan nafas cepat karena adanya usaha nafas untuk memenuhi O2 akibat sesak nafas.

Abdomen        :  Tampak adanya pembesaran, teraba tumor di perut bagian bawah, teraba lunak/keras, berbatas tegas, kenyal, dan berbeda dengan jaringan di sekitarnya

Genetalia         :  Adanya perdarahan pervaginam menoragie, metoragie.

Anus                :  Karena penekanan mioma pada rectum dapat menyebabkan haemoroid akibat pengerasan faces.

Ekstremitas     :  Dapat terjadi penekanan edema tungkai akibat penekanan pada pembuluh darah dan pembuluh lymfe.

  1. Pemeriksaan khusus
    1. Pemeriksaan bimanual

Teraba tumor padat uterus terletak di garis tengah atau agak ke samping, teraba berbenjol-benjol. Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai yang berhubungan dengan uterus (Wiknjosastro, 2005:344).

  1. Pemeriksaan uterus sonde

Mioma intramural akan menyebabkan kavum uteri menjadi luas, sehingga diagnosanya ditegakkan dengan uterus sonde (Wiknjosastro, 2005:344).

  1. USG

USG abdominal dan transvaginal dapat membantu dan menegakkan duagaan klinis.

USG abdominal dan transvaginal digunakan untuk memantau apakah mioma tadi bertambah besar atau tidak. Mioma dengan ukuran kecil dapat diketahui dan letaknya terhadap cavum uteri juga dapat ditentukan, apakah suatu mioma submukosum, intramural, atau subserosum.

  1. Laboratorium

Pada mioma uteri yang disertai dengan perdarahan banyak dapat terjadi penurunan kadar hemoglobin (Manuaba, 1998:410).

  1. K.    Diagnosa dan masalah

PAPIAH dengan mioma uteri KU baik/buruk dengan kemungkinan masalah:

  1. Anemia berhubungan adanya perdarahan yang abnormal (Manuaba, 1998:410).
  2. Cemas berhubungan dengan penyakitnya/perawatan di RS (Carpenito, 1992:12).
  3. Gangguan pola eliminasi BAK berhubungan dengan penekanan mioma uteri terhadap kandung kencing (Manuaba, 1998:410).
  4. Gangguan pola BAB berhubungan dengan mioma uteri terhadap rectum (Manuaba, 1998:410).
  5. Gangguan rasa nyaman (nyeri)berhubungan dengan penekanan pada urat saraf oleh mioma uteri (Manuaba, 1998:410).
  6. Gangguan pemenuhan nutrisi sehubungan dengan mual/nafsu makan menurun (Carpenito, 1998:130).
  1. L.     Perencanaan
  2. Diagnosa kondisi : PAPIAH dengan mioma uteri KU baik/buruk

Tujuan    :  – Mioma uteri dapat teratasi

Kriteria   :  –  Mioma tidak bertambah besar

–    Tidak timbul komplikasi lain

–    Tanda-tanda vital

T : 110/70-140/90 mmHg

N : 70-96 x/mnt

S : 36,5-37,2oC

R : 16-20 x/mnt

Intervensi

  1. Jelaskan pada ibu hasil pemeriksaan dari penyakitnya.

R/  Ibu bisa kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan.

  1. Jelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi penyakit ibu.

R/  Agar ibu lebih tenang dalam menghadapi pengobatan yang dilakukan.

  1. Minta persetujuan klien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan.

R/  Agar klien dan keluarganya bisa kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan.

  1. Kolaborasi dengan dokter spesialis untuk penatalaksanaan mioma uteri.

R/  Untuk mendapatkan pengobatan yang tepat (Doenges, 2001:120).

  1. Masalah I : Anemia berhubungan dengan adanya perdarahan yang abnormal.

Tujuan    :  Anemia teratasi

Kriteria   :  –  Kadar Hb normal : 12 gr-16 gr%

–    Kepala tidak pusing

–    Muka tidak pucat

–    Konjungtiva palpebra merah muda

Intervensi

  1. Jelaskan kepada ibu penyebab perdarahan yang dialami.

R/ Dengan diberikan informasi tentang penyakit ibu akan lebih mengerti dan kooperatif.

  1. Jelaskan pada ibu untuk makan-makanan yang mengandung ferum.

R/ Makanan yang mengandung ferum dapat meningkatkan kadar Hb.

  1. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian diit TKTP.

R/ Protein membantu pembentukan Hb.

  1. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian tranfusi darah

R/ Untuk meningkatkan kadar Hb.

  1. Masalah II : Cemas berhubungan dengan penyakitnya/perawatan di RS.

Tujuan    :  Cemas berkurang/hilang.

Kriteria   :  –  Tanda-tanda vital dalam batas normal

–    Klien mengungkapkan cemas berkurang/hilang

–    Wajah tidak tegang dan melamun (Carpenito, 1998:10)

Intervensi

  1. Berikan penjelasan tentang mioma uteri dan dampaknya.

R/ Health education untuk menumbuhkan mekanisme koping yang positif.

  1. Berikan dukungan moril tentang perubahan fisiologik baik fisik/psikologi.

R/ Rasa percaya diri akan timbul dalam diri klien, sehingga dapat menumbuhkan sikap yang kooperatif.

  1. Berikan pengertian terhadap keluarga, klien atas perubahan fisiologis baik fisik/psikologis.

R/ Dukungan keluarga merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa percaya diri klien.

  1. Berikan ketenangan pada klien dengan duduk disampingnya.

R/ Pendekatan therapeutik dapat memberikan dukungan moril secara positif.

  1. Berikan kesempatan klien mengungkapkan perasaannya.

R/ Diharapkan klien dapat kooperatif dengan baik sehingga masalah yang dihadapi teratasi (Carpenito, 1998:136).

  1. Masalah III : Gangguan pola eliminasi BAK berhubungan dengan penekanan mioma uteri terhadap kandung kencing (Manuaba, 1998:410).

Tujuan    :  Klien dapat BAK dengan lancar.

Kriteria   :  –  Klien dapat BAK dengan frekuensi normal 4-5 kali sehari.

–    Produksi urine 40-80 ml/jam atau 1-2 liter/hari.

Intervensi

  1. Berikan penjelasan tentang penyebab sulit BAK.

R/        Pasien bisa mengerti dan kooperatif.

  1. Anjurkan ibu untuk BAK setiap ada rangsangan untuk BAK.

R/        Proses pengeluaran urine yang lancar dapat mencegah terjadinya proses infeksi serta dapat memberikan rasa nyaman.

  1. Berikan ransangan apabila terdapat kandung kemih.

R/        Ibu dapat segera BAK.

  1. Observasi intake dan output cairan.

R/        Mengetahui keseimbangan cairan dengan pantauan intake dan output (Carpenito, 1998:404).

  1. Masalah IV : Gangguan pola eliminasi BAB berhubungan dengan penekanan mioma uteri pada rectum.

Tujuan    :  Klien dapat BAB dengan frekuensi normal 1 kali/hari.

Kriteria   :  –  Klien terjadi obstipasi.

–    BAB 1x sehari dengan konsistensi lunak.

Intervensi

  1. Berikan penjelasan tentang kesulitan BAB.

R/  Pasien mengerti dan kooperatif.

  1. Anjurkan ibu untuk BAB secara teratur dan agar ibu tidak menahan BAB.

R/  Menahan faeces yang lama pada rectum dapat menyebabkan keadaan faeces semakin keras dan semakin sudah BAB.

  1. Anjurkan ibu untuk banyak minum ± 2 liter atau ± 8-10 gelas perhari.

R/  Dengan masuknya air yang cukup dapat mempermudah pengeluaran BAB.

  1. Anjurkan pada klien untuk minum air hangat 30 menit sebelum sarapan pagi.

R/  Air hangat dapat merangsang pengeluaran faeces.

  1. Anjurkan ibu untuk melakukan olahraga ringan.

R/  Membantu memperlancar BAB.

  1. Kolaborasi dengan tim medis untuk memberikan laxansia.

R/  Dapat meningkatkan peristaltik usus sehingga BAB lancar (Carpenito, 1998:24).

  1. Masalah V : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penekanan urat syaraf oleh mioma uteri

Tujuan    :  Nyeri berkurang/hilang

Kriteria   :  –  Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang

–    Klien tidak menangis menahan sakit.

Intervensi

  1. Jelaskan kepada klien tentang penyebab nyeri.

R/ Dengan menjelaskan mengenai penyebab nyeri, klien akan mengerti dan kooperatif dengan tindakan.

  1. Ajarkan kepada klien tentang strategi relaksasi dengan bernafas perlahan, teratur atau nafas dalam.

R/ Dapat mengurangi rasa nyeri.

  1. Beri pengurang rasa nyeri (analgesic) bila nyeri sangat hebat.

R/ Obat analgesic akan merangsang syaraf dengan menekan rasa nyeri sehingga mengurangi rasa nyeri.

  1. Observasi tanda-tanda vital

R/ Nyeri hebat ingin menimbulkan pengeluaran adrenalin yang berlebihan sehingga berpengaruh pada kenaikan frekuensi denyut nadi dan tekanan darah (Carpenito, 1998:30).

  1. Masalah VI : Gangguan pemenuhan nutrisi sehubungan adanya mual/nafsu makan menurun

Tujuan    :  Nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan.

Kriteria   :  –  Nafsu makan meningkat, makan 3x sehari porsi sedang.

–    Pasien tidak mual

–    BB ideal

Intervensi

  1. Berikan penyuluhan tentang porsi makanan yang efektif untuk klien yaitu porsi kecil tapi sering.

R/  Porsi kecil memberi kesempatan agar lambung tidak bekerja terlalu berat sehingga mengurangi rasa mual.

  1. Hindari makanan berlemak dan merangsang asam lambung.

R/  Makanan berlemak lebih lama tinggal di dalam lambung sehingga menimbulkan rasa penuh (enek) (Carpenito, 1998:130)

  1. M.   Pelaksanaan

Pelaksanaan/implementasi merupakan tahap ketiga dalam proses asuhan kebidanan yang merupakan perwujudan dari rencana tindakan yang telah disusun dalam tahap perencanaan, implementasi akan dilaksanakan pada kasus nyata serta sesuai dengan kondisi klien.

  1. N.    Evaluasi

Adalah merupakan tahap akhir dari proses asuhan kebidanan untuk menilai tentang kriteria hasil yang dicapai, apakah sesuai dengan rencana atau tidak dalam evaluasi dilakukan dengan pendekatan SOAP, yang dimaksud SOAP adalah sebagai berikut :

S    :  Subyektif

Yang didapatkan dari keluhan klien

O   :  Obyektif

Yang didapatkan dari hasil pemeriksaan oleh petugas yang terkait.

A   :  Assesment

Berisi kesimpulan dari data subyektif dan obyektif yang menunjukkan keberhasilan tindakan yang telah dilakukan ataupun masalah yang baru muncul.

P    :  Planning

Merupakan perencanaan lanjut dan tindakan yang sudah dilakukan dengan berpedoman pada tingkat keberhasilan yang telah dicapai.

BAB II

 TINJAUAN KASUS

  1. A.    Pengkajian

Tanggal Pengkajian           : 18 Juli 2011, pukul 09.00 WIB

Tempat Pengkajian            : Poli Kandungan RSUP dr.Soedono Madiun

  1. Pengumpulan data
    1. Data subyektif

Biodata                       Istri                              Suami

Nama                     :  Ny. “P”                          Tn “S”

Umur                     :  50 th                               55 th

Agama                   :  Islam                              Islam

Suku/bangsa          : Jawa/Indonesia              Jawa/Indonesia

Pendidikan            :  SD                                  SD

Pekerjaan               :  Buruh                             Buruh

Penghasilan           :  Rp. 600.000,-/bln           Rp. 600.000,-/bln

Status marital        :  Menikah                         Menikah

Lama/brp x nikah  :  27 th/1x                          27 th/1x

Alamat                  :  Grobogan RT.18/09 Jiwan, Madiun

No. register           :  6-42-75-67

2)      Keluhan utama

Ibu datang di poli kandungan RSUP Dr.Soedono Madiun karena ingin kontrol post kurretage mioma uteri. Ibu mengeluh pusing.

3)      Riwayat kesehatan

a)             Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit dengan gejala jantung berdebar-debar (penyakit jantung), tekanan darah tinggi (hipertensi), batuk lama lebih dari 2 minggu (TBC), sakit saat BAK (ginjal), banyak makan, banyak

minum dan sering kencing (DM), gangguan jiwa ataupun pembekuan darah. Ibu tidak pernah operasi di daerah perut, disekitar panggul, alat genetalia ataupun bagian tubuh yang lain. Sebelumnya mempunyai keluhan pada waktu beraktifitas, kemudian periksa ke poli kandungan pada tanggal 5 Juli 2011 dan MRS tanggal 6 Juli 2011 dengan diagnosa mioma uteri (geborn). Menjalani curretage dan tranfusi pada tanggal 9 Juli 2011.

b)            Riwayat kesehatan sekarang

Ibu mengatakan saat ini dalam keadaan sehat, sudah tidak mengalami perdarahan dan nyeri perut hanya sedikit pusing.

c)             Riwayat kesehatan keluarga

Didalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti yang sedang diderita ibu sekarang.

d)            Riwayat kebidanan

–    Riwayat haid

Menarche usia 14 tahun, haid teratur siklus 30 hari, lama haid ± 7 hari, ganti pembalut 3x sehari konsistensi encer. Ibu tidak merasakan nyeri saat haid. Sejak 2 bulan terakhir ini ibu mengeluh perdarahan, dan disekitar benjolan terasa nyeri bila untuk aktivitas berat.

–    Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas

P40004 anak pertama sampai dengan keempat biasa ditolong bidan. Selama kehamilan dan persalinan sampai dengan nifas dari anak pertama sampai keempat ibu selalu sehat tak pernah mengalami keadaan yang abnormal. Semua anak lahir cukup bulan. Anak terkecil berusia 10 tahun.

e)             Riwayat KB

Sejak kelahiran anak pertama ibu menggunakan KB suntik. Setelah kelahiran anak terakhir ibu mengikuti program KB steril tahun 2000.

f)             Pola kebiasaan sehari-hari

–    Nutrisi

Sebelum MRS : Makan 3x sehari dengan komposisi nasi, sayur (sawi, bayam, kangkung), lauk (tahu, tempe, telur). Minum + 6 gelas perhari (air putih + teh hangat, kadang-kadang kopi).

Selama di RS : makan 3 kali sehari dengan komposisi nasi, sayur (wortel, kacang panjang, bayam) dan lauk (daging, tahu, tempe). Minum air putih 3 botol aqua ½ literan +2 gelas teh hangat sehari.

–    Eliminasi

Sebelum MRS : BAB 1x sehari, konsistensi lembek, warna kuning trengguli, bau khas. BAK 4-5 kali sehari warna kuning jernih. Ibu merasakan nyeri di daerah benjolan saat BAK.

Selama di RS:  BAB 1x sehari, konsistensi lembek, warna kuning trengguli, bau khas. BAK 5-6 kali sehari warna kuning jernih

–    Istirahat

Dirumah, Ibu biasa tidur malam ± 8 jam (21.00 – 05.00 WIB).tidur siang + 1 jam (jam 13.00 – 14.00 WIB) tidak ada gangguan

Selama di RS : Tidur malam jam 21.00 WIB, malam sering terbangun karena petugas yang mengganti infus, bangun pagi jam 04.00 WIB. Siang tidur selama 2 jam (jam 11.00 – 13.00 WIB).

–    Personal hygiene

Dirumah, ibu mandi 2x sehari pagi dan sore. Gosok gigi bersamaan dengan mandi. Ganti pakaian dan celana dalam 2x sehari. Keramas 2x seminggu dengan shampo. Sehabis BAB maupun BAK selalu cebok dengan sabun dan air bersih dari depan ke belakang. Apalagi selama mengeluarkan darah ibu selalu cebok.

Selama di RS : Ibu hanya disibin karena dipasang infus, ganti pakaian 1x sehari, ganti softex 2x sehari pagi dan sore.

–    Aktivitas

Ibu bekerja sebagai pedagang dan biasa mengerjakan pekerjaan rumah misalnya memasak, mencuci dan menyapu.

–    Rekreasi

Dirumah ibu menjalankan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga dan sebagai buruh dibantu anaknya yang tinggal serumah. Tetapi selama sakit ibu lebih banyak istirahat dirumah.

Selama di RS ibu hanya istirahat di tempat tidur karena diberi tambahan infus sehingga kurang leluasa bergerak. Hanya kalau BAB/BAK ibu jalan ke kamar mandi dibantu keluarga.

g)             Kondisi Psikosoial

Ibu merasa takut dan khawatir sejak menderita penyakit tersebut. Walaupun demikian, ibu sudah menerima keadaannya. Ibu sering menanyakan tentang kelanjutan dari proses pengobatan.

h)            Spiritual

Ibu melaksanakan sholat 5 waktu dan berpuasa di bulan ramadhan. Waktu di RS tak bisa melakukan sholat dengan semestinya karena dipasang infus. Hanya saja ibu selalu berdoa dan pasrah pada keadaannya.

i)              Keadaan sosial  budaya

Sebelum maupun selama dirawat di rumah sakit ibu tidak pernah minum jamu-jamuan.

  1. Data obyektif

1)      Keadaan umum           : Anemis

Kesadaran                   : Composmentis

2)      Tanda-tanda vital

T :        190/110 mmHg

S :        36,5 oC

N :       84 x/mnt

R :        24 x/mnt

TB =    155 cm

BB =    56 kg

3)      Pemeriksaan fisik

Kepala                :  Rambut bersih, warna hitam ada sedikit uban, persebaran merata, banyak yang rontok

Muka                  :  Bersih, tidak sembab

Mata                   :  Simetris, conjungtiva palpebra anemis, sklera putih, agak pucat

Gigi dan mulut   :  Mulut bersih, tidak ada caries, mukosa bibir agak kering.

Telinga               :  Bentuk simetris, sedikit secret .

Hidung               : Tidak ada polip, tidak terdapat pernafasan cuping hidung.

Leher                  : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid maupun kelenjar limfe, tidak ada bendungan vena jugularis.

Dada                  : Simetris, tidak ada penarikan dinding dada saat bernafas, tidak ada bunyi ronchi dan weezhing.

Mammae            :  Bentuk simetris, tidak ada benjolan abnormal pada payudara

Abdomen           :  Tidak terdapat benjolan abnormal, tidak terdapat nyeri tekan

Genetalia            :  Tidak terdapat pengeluaran darah pervaginam, tidak ada condiloma akuminata/matalata, tidak ad avarices,tidak ada pembengkakan kelenjar skene dan kelenjar bartolini, tidak terdapat keputihan.

Anus                  :  Tidak ada haemoroid.

Ekstremitas        :

–            Atas             :  Simetris, kedua tangan dapat digerakkan dengan biasa

–         Bawah          :  Bentuk simetris, tidak ada oedem, tidak ada varices.

4)      Pemeriksaan penunjang

Hasil PA (patologi anatomi) tanggal 5 Juli 2011.

–          Leiomyoma uteri

–          Endometrium kelenjar fase sekresi irregular sheding

HB terakhir tanggal 11 Juli 2011 = 9,3 gr%.

Terapi  : – Plasminex                3×1 tablet  XV

–   Vit B Complex       3×1 tablet XV

  1. Analisa data

Diagnosa/masalah

Data dasar

P40004, usia ibu 50 tahun dengan post curretage dan exterpasi mioma uteri hari ke-9.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pusing sehubungan dengan peningkatan tekanan darah.

DS  :  – Ibu mengatakan telah mempunyai 4 orang anak, terkecil berusia 10 tahun, lahir cukup bulan.

–   Ibu mengatakan usianya sekarang 50 tahun.

–    Ibu mengatakan telah menjalani curretage dan tranfusi 4 kolf atas indikasi mioma uteri pada tanggal 9 Juli 2011 dan sekarang sudah tidak merasa nyeri saat beraktifitas.

–   Ibu mengatakan merasakan cemas apakah penyakitnya bisa sembuh total atau tidak.

–   Ibu mengatakan masih merasakan pusing dan lemas.

DO : –  Keadaan umum : Anemis

–   Kesadaran : composmentis

–   Tanda-tanda vital

T : 190/110 mmHg

S : 36,5 oC

N : 84 x/mnt

R : 24 x/mnt

TB = 155 cm

BB = 56 kg

–   Mata : conjungtiva palpebra anemis, sklera putih, agak pucat, bentuk simetris.

–    Abdomen : Tidak terdapat tumor, tidak ada luka bekas operasi, tidak terdapat nyeri tekan. Telah dilakukan curretage tanggal 9 Juli 2011.

–   Hb tanggal 11 juli 2011 = 9,3 gr%.

DS:  Ibu mengatakan pusing.

DO: Tanda-tanda vital:

–     T : 190/110 mmHg

–     S : 36,5 0C

–     N : 84 x/menit

–     R : 24 x/me

  1. B.     Diagnosa Kebidanan

P40004, usia ibu 50 tahun post curretage dan exterpasi mioma uteri hari ke-9 dengan masalah anemia dan hipertensi. Prognosa baik.

  1. C.    Perencanaan

Tanggal 18 Juli 2011

Diagnosa         : P40004, usia ibu 50 tahun post curretage dan exterpasi mioma uteri hari ke-9 dengan masalah anemia dan hipertensi.

Tujuan      : – Anemia teratasi

–  Rasa nyaman terpenuhi

–  Cemas berkurang

Kriteria     : – KU ibu baik

–  TTV :   T = 110/70 – 140/90 mmHg

N = 70 – 96 x/menit

S = 36,5 – 37,5 0C

R = 16 – 20 x/menit

–  Konjungtiva palpebra merah muda

–  Hb normal (12-16 gr%)

–  Klien dapat mengungkapkan kecemasannya

–  Klien tenang

–  Klien mengerti tentang penyakitnya.

Intervensi

  1. Jelaskan kepada klien tentang keadaannya

R/ klien mengerti dan kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan.

  1. Observasi tanda-tanda vital

R/ Cemas merangsang peningkatan hormon adrenalin sehingga tekanan darah dan nadi meningkat

  1. Kolaborasi dengan tim gizi untuk pemberian diit TKTP

R/ protein membantu peningkatan Hb

  1. Kolaborasi dengan tim gizi untuk pemberian diit rendah garam

R/ Garam dapat membuat tekanan darah semakin meningkat

  1. Anjurkan pada ibu untuk menjaga kebersihan daerah genetalia

R/ Menjaga kebersihan dapat menghindarkan dari infeksi

  1. Yakinkan pasien bahwa penyakitnya Insyaallah dapat disembuhkan

R/  Memberikan harapan agar pasien merasa yakin dan optimis

  1. Ajarkan pada ibu cara minum obat yang benar

R/ Pemberian terapi yang tepat akan mempercepat proses penyembuhan

  1.  Anjurkan pada pasien untuk selalu berdoa sesuai dengan keyakinannya

R/ Doa dapat menentramkan hati sehingga cemas berkurang.

  1. D.    Pelaksanaan

Tanggal 18 Juli 2011 pukul 10.00 WIB

Diagnosa         : P40004, usia ibu 50 tahun post curretage dan exterpasi mioma uteri hari ke-9 dengan masalah anemia dan hipertensi. Prognosa baik.

Implementasi

1. Menjelaskan pada klien tentang keadaannya bahwa saat ini tumor dalam tubuh ibu sudah diambil dan ibu tidak perlu khawatir.

2. Mengobservasi TTV. Didapatkan: T = 190/110 mmHg, S = 36,5 0C, N = 84 x/menit, R = 24 x/menit.

3. Melakukan kolaborasi dengan tim gizi untuk pemberian diit TKTP.

4. Melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat anti anemia.

5. Melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat anti hipertensi.

6. Menganjurkan pada ibu untuk selalu menjaga kebersihgan vagina seperti ganti celana dalam minimal 2x sehari/basah, cebok dari arah depan ke belakang.

7. Meyakinkan pasien dengan penjelasan yang sederhana bahwa insyaallah penyakitnya dapat disembuhkan

8. Menganjurkan kepada pasien untuk selalu berdoa menurut keyakinannya sampai timbul kepercayaan dari pasien dalam menghadapi penyakitnya.

  1. E.     Evaluasi

Tanggal 18 Juli 2011 pukul 10.15 WIB

Diagnosa : P40004, usia ibu 50 tahun, post curretage dan exterpasi mioma uteri hari ke-9 dengan masalah anemia dan hipertensi. Prognosa baik.

S : – Ibu mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan petugas

– Ibu mengatakan pusing

– Ibu mengatakan merasa lega karena sudah dilakukan tindakan

O : –  Ibu tampak mengangguk saat dijelaskan

– Ibu mampu mengulang penjelasan yang telah diberikan.

A    : P40004, post curretage dan exterpasi mioma uteri, pengetahuan ibu bertambah tentang penyabab dan keadaan sekarang setelah dilakukan tindakan.

P : – Pesan kontrol 1 bulan lagi.

– Anjurkan segera kembali bila ada keluhan.

                                                                                   Petugas

                                                                                     Guritnasari

KEPERAWATAN JIWA PADA LANSIA

Pendahuluan
Saat ini sudah dapat diperkirakan bahwa 4 juta lansia di Amerika mengalami gangguan kejiwaan seperti demensia, psikosis, Penggunaan alcohol kronik, atau kondisi  lainnya. Hal ini menyebabkan perawat dan tenaga kesehatan professional yang lain memiliki tanggung jawab yang lebih untuk merawat lansia dengan masalah kesehatan jiwa dan emosi. Kesehatan mental pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti status fisiologi dan psikologi, kepribadian, sosial support, sosial ekonomi dan pola hidup.

Peran Perawat Jiwa Lansia
          Perawat yang bekerja dengan lansia yang memiliki gangguan kejiwaan harus menggabungkan keterampilan keperawatan jiwa dengan pengetahuan gangguan fisiologis, proses penuaan yang normal, dan sosiokultural pada lansia dan keluarganya. Sebagai pemberi pelayanan perawatan primer, perawat jiwa lansia harus pandai dalam mengkaji kognitif, afektif, fungsional, fisik, dan status perilaku. Perencanaan dan intervensi keperawatan mungkin diberikan kepada pasien dan keluarganya atau pemberi pelayanan lain.

Sebagai konsultan, perawat jiwa lansia mengkaji penyediaan perawatan lain pada lansia untuk mengidentifikasi aspek tingkah laku dan kognitif pada perawatan pasien. Praktek perawat ahli jiwa lansia yang telah lulus menempuh pendidikan spesialis di bidang ini dan mungkin akan bekerja di agensi untuk membantu pegawai dalam menjalankan program terapeutik untuk senior dengan gangguan psikiatrik atau perilaku. Perawat jiwa lansia harus memiliki pengetahuan tentang efek pengobatan psikiatrik pada lansia. Mereka dapat memimpin macam-macam kelompok seperti orientasi, , remotivasi, kehilangan dan kelompok sosialisasi dimana perawat dengan tingkat ahli dapat memberikan psikoterapi.
Teori Penuaan
Gerontologis tidak setuju tentang adaptasi penuaan. Tidak ada satu teoripun dapat memasukan semua variable yang menyebabkan penuaan dan respon individu terhadap hal itu. Secara garis besar teori penuaan dibagi menjadi teori biologis, teori psikologis, dan teori sosiokultural.
1. Teori Biologis
a. Biological Programming Theory
Teori program biologis merupakan suatu proses sepanjang kehidupan sel yang terjadi sesuai dengan sel itu sendiri. Teori waktu kehiduan makhluk memperlihatkan adanya kemunduran biologis, kognitif, dan fungsi psikomotor yang tidak dapat dihindari dan diperbaiki, walaupun perubahan diet atau hipotermi dalam waktu yang lama dapat menunda proses tersebut.

b. Wear and Tear Theory
Teori wear and tear ini menyatakan bahwa perubahan struktur dan fungsi dapat dipercepat oleh perlakuan kejam dan diprlambat oleh perawatan. Masalah-masalah yang berkaitan dengan penuaan merupakan hasil dari akumulasi stres, trauma, luka, infeksi, nutrisi yang tidak adekuat, gangguan metabolik dan imunologi, dan perlakuan kasar yang lama.Konsep penuaan ini memperlihatkan penerimaan terhadap mitos dan stereotif penuaan.

c. Stress-Adaptasi Theory
Teori adaptasi stres ini menegaskan efek positif dan negatif dari stres pada perkembangan biopsikososial. Sebagai efek positif, stres menstimulasi seseorang untuk melakukan sesuatu yang baru, jalan adaptasi yang lebih efektif. Efek negatif dari stres bisa menjadi ketidakmampuan fungsi karena perasaan yang terlalu berlebihan. Stres sering di asumsikan dapat mempercepat proses penuaan. Stres dapat mempengaruhi kemampuan penerimaan seseorang, baik secara fisiologi, psikologis, sosial dan ekonomi. Hal ini dapat berakibat sakit atau injuri.

2. Teori psikologis,
a. Erikson’s Stage of Ego Integrity
Teori Erikson tentang perkembangan manusia mengidentifikasi tugas yang harus dicapai pada setiap tahap kehidupan. Tugas terakhir, berhubungan dengan refleksi tentang kehidupan seseorang dan pencapaiannya, ini diidentifikasi sebagai integritas ego. Jika ini tidak tercapai maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan.

b. Life Review Theory
Pada lansia, melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan proses yang normal berkaitan dengan pendekatan terhadap kematian. Reintegrasi yang sukses dapat memberikan arti dalam kehidupan dan mempersiapkan seseorang untuk mati tanpa disertai dengan kecemasan dan rasa takut. Hasil diskusi terakhir tentang proses ini menemukan bahwa melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan salah satu strategi untuk merawat masalah kesehatan jiwa pada lansia.

c. Stability of Personality
Perubahan kepribadian secara radikal pada lansia dapat mengakibatkan penyakit otak. Para peneliti menemukan bahwa periode krisis psikologis pada saat dewasa tidak akan terjadi pada interval regular. Perubahan peran, perilaku dan situasi membutuhkan respon tingkah laku yang baru. Mayoritas lansia pada studi ini memperlihatkan adaptasi yang efektif terhadap kebutuhan ini.

3. Teori Sosiokultural
a. Disengagement Theory
Postulat pada teori ini menyatakan bahwa lansia dan penarikan diri dari lingkungan sosial merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Terdapat stereotype yang kuat dari teori ini termasuk ide bahwa lansia merasa nyaman bila berhubungan dengan orang lain seusianya.

b. Activity Theory
Teori aktivitas berpendapat bahwa penuaan harus disertai dengan keaktifan beraktifitas sebisa mungkin. Teori ini memperlihatkan efek positif dari aktivitas terhadap kepribadian lansia, kesehatan jiwa, dan kepuasan dalam hidup.

c. The Family in Later Life
Teori keluarga berfokus pada keluarga sebagai unti dasar perkembangan emosi seseorang. Teori ini berpendapat bahwa pusat proses siklus kehidupan adalah perubahan sistem hubungan dengan orang lain untuk medukung fungsi masuk, keluar dan perkembangan anggota keluarga. Gejala fisik, emosi, dan sosial dipercaya merupakan repleksi dari masalah negosiasi dan transisi pada siklus kehidupan keluarga.

Pengkajian Pasien Lansia
          Pengkajian pasien lansia menyangkut beberapa aspek yaitu biologis, psikologis, dan sosiokultural yang beruhubungan dengan proses penuaan yang terkadang membuat kesulitan dalam mengidentifikasi masalah keperawatan. Pengkajian perawatan total dapat mengidentifikasi gangguan primer. Diagnosa keperawatan didasarkan pada hasil observasi pada perilaku pasien dan berhubungan dengan kebutuhan.

Wawancara
          Hubungan yang penuh dengan dukungan dan rasa percaya sangat penting untuk wawancara yang positif kepada pasien lansia. Lansia mungkin merasa kesulitan, merasa terancam dan bingung di tempat yang baru atau dengan tekanan. Lingkungan yang nyaman akan membantu pasien tenang dan focus terhadap pembicaraan.

Keterampilan Komunikasi Terapeutik
          Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam berfikir abstrak.  Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuk pasien.

Melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan sumber data yang baik untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan sumber dukungan. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distress yang ada. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan atau protocol wawancara pengkajian. Hal ini dapat meningkatkan kecemasan dan stres pasien karena kekurangan informasi. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi.

Setting wawancara
          Tempat yang baru dan asing akan membuat pasien merasa cemas dan takut. Lingkungan harus dibuat nyaman. Kursi harus dibuat senyaman mungkin. Lingkuangan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.

Data yang dihasilkan dari wawancara pengkajian harus dievaluasi dengan cermat. Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien. Perawat harus memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara dan faktor lain yang dapat mempengaruhi status, seperti pengobatan media, nutrisi atau tingkat cemas.

Fungsi Kognitif
          Status mental menjadi bagian dari pengkajian kesehatan jiwa lansia karena beberapa hal termasuk :
1. Peningkatan prevalensi demensia dengan usia.
2. Adanya gejala klinik confusion dan depresi.
3. Frekuensi adanya masalah kesehatan fisik dengan confusion.
4. Kebutuhan untuk mengidentifikasi area khusus kekuatan dan keterbatasan kognitif .

Status Afektif
          Status afektif merupakan pengkajian geropsikiatrik yang penting. Kebutuhan termasuk skala depresi. Seseorang yang sedang sakit, khususnya pada leher, kepala, punggung atau perut dengan sejarah penyebab fisik. Gejala lain pada lansia termasuk kehilangan berat badan, paranoia, kelelahan, distress gastrointestinal dan menolak untuk makan atau minum dengan konsekuensi perawatan selama kehidupan.

Sakit fisik dapat menyebabkan depresi sekunder. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan depresi diantaranya gangguan tiroid, kanker, khususnya kanker lambung, pancreas, dan otak, penyakit Parkinson, dan stroke. Beberapa pengobatan da[at meningkatkan angka kejadian depresi, termasuk steroid, Phenothiazines, benzodiazepines, dan antihypertensive. Skala Depresi Lansia merupakan ukuran yang sangat reliable dan valid untuk mengukur depresi.

Respon Perilaku
          Pengkajian perilaku merupakan dasar yang paling penting dalam perencanaan keperawatan pada lansia. Perubahan perilaku merupakan gejala pertama dalam beberapa gangguan fisik dan mental. Jika mungkin, pengkajian harus dilengkapi dengan kondisi lingkungan rumah. Hal ini menjadi modal pada faktor lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan pada lansia.

Pengkajian tingkah laku termasuk kedalam mendefinisikan tingkah laku, frekuensinya, durasi, dan faktor presipitasi atau triggers. Ketika terjadi perubahan perilaku, ini sangat penting untuk dianalisis.

Kemampuan fungsional
          Pengkajian fungsional pada pasien lansia bukan batasan indokator dalam kesehatan jiwa. Dibawah ini merupakan aspek-aspek dalam pengkajian fungsional yang memiliki dampak kuat pada status jiwa dan emosi.

Mobilisasi
          Pergerakan dan kebebasan sangat penting untuk persepsi kesehatan pribadi lansia. Hal yang harus dikaji adalah kemampuan lansia untuk berpindah di lingkungan, partisipasi dalam aktifitas penting, dan mamalihara hubungan dengan orang lain. Dalam mengkaji ambulasi , perawat harus mengidentifikasi adanya kehilangan fungsi motorik, adaptasi yang dilakukan, serta jumlah dan tipe pertolongan yang dibutuhkan. Kemampuan fungsi

Activities of Daily Living
          Pengkajian kebutuhan perawatan diri sehari-hari (ADL) sangat penting dalam menentukan kemampuan pasien untuk bebas. ADL ( mandi, berpakaian, makan, hubungan seksual, dan aktifitas toilet) merupakan tugas dasar. Hal ini sangat penting dalam untuk membantu pasien untuk mandiri sebagaimana penampilan pasien dalam menjalankan ADL.

The Katz Indeks
          Angka Katz indeks dependen dibandingkan dengan independen untuk setiap ADL seperti mandi, berpakaian, toileting, berpindah tempat , dan makan. Salah satu keuntungan dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi ADL setiap waktu, yang diakhiri evaluasi dan aktivitas rehabilisasi.

Fungsi Fisiologis
          Pengkajian kesehatan fisik sangat penting pada pasien lansia karena interaksi dari beberapa kondisi kronis, adanya deficit sensori, dan frekuensi tingkah laku dalam masalah kesehatan jiwa. Prosedur diagnostic yang dilakukan diantaranya EEG, lumbal; funksi, nilai kimia darah, CT Scan dan MRI. Selain itu, nutrisi dan pengobatan medis juga harus dikaji.

Nutrisi
          Beberapa pasien lansia membutuhkan bantuan untuk makan atau rencana nutrisi diet. Pasien lansia yang memiliki masalah psikososial memiliki kebutuhan pertolongan dalam makan dan monitor makan. Perawat harus secara rutin mengevaluasi kebutuhan diet pasien. Pengkajian nutrisi harus dikaji lebih dalam secara perseorangan termasuk pola makan rutin, waktu dalam sehari untuk makan, ukuran porsi, makanan kesukaan dan yang tidak disukai.

Pengobatan Medis
          Empat faktor lansia yang beresiko untuk keracunan obat dan harus dikaji yaitu usia, polifarmasi, komplikasi pengobatan, komorbiditas.

Penyalahgunaan Bahan-bahan Berbahaya
          Seorang lansia yang memiliki sejarah penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya beresiko mengalami peningkatan kecemasan dan gangguan kesehatan lainnya apabila mengalami kehilangan dan perubahan peran yang signifikan. Penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya lainnya oleh seseorang akan menyebabkan jarak dari rasa sakit seperti kehilangan dan kesepian.

Dukungan Sosial
          Dukungan positif sangat penting untuk memelihara perasaan sejahtera sepanjang kehidupan, khususnya untuk pasien lansia. Latar belakang budaya pasien merupakan faktor dukungan kepada lansia. Kebanyakan lansia memiliki waktu yang terbatas untuk berhubungan dengn anaknya. Masalah perilaku pada lansia kemungkinan hasil dari ketiakmampuan keluarga untuk menerima kehilangan dan peningkatan kemandirian pada anggota keluarga yang sudah dewasa. r yang sangat penting dalam mengidentifikasi support system. Perawat harus mengkaji dukungan sosial pasien yang ada di lingkungan rumah, rumah sakit, atau di tempat pelayanan kesehatan lainnya. Keluarga dan teman dapat membantu dalam mengurangi shock dan stres di rumah sakit.

ASKEP GAGAL JANTUNG KONGESTIF (CHF)

A. Pengertian

Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif terhadap kebtuhan metabolic tubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada fungsi miokardium ; gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme kompensatorik sirkulai dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya.
Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dari pada gagal jantung. Gagal sirkulasi menunjukkan ketidakmampuan dari sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai. Defenisi ini mencakup segal kelainan dari sirkulasi yang mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak memadai, termasuk perubahan dalam volume darah, tonus vaskuler dan jantung. Gagal jantung kongetif adlah keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompenstoriknya. Gagal jantung kongestif perlu dibedakan dengan istilah yang lebih umum yaitu. Gagal sirkulasi, yang hanya berarti kelebihan bebabn sirkulasi akibat bertambahnya volume darah pada gagal jantung atau sebab-sebab diluar jantung, seperti transfusi yang berlebihan atau anuria.

B. Etiologi
Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung kongestif maupun didapat. Mekanisme fisiologis yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal, beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta dan hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada imfark miokardium dan kardiomiopati.

Faktor-fktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanana sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia, infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Pennganan yang efektif terhadap gagal jantung membutuhkan pengenalan dan penanganan tidak saja terhadap mekanisme fisiologis dan penykit yang mendasarinya, tetapi juga terhadap faktor-faktor yang memicu terjadinya gagal jantung.

C. Patofisiologi
Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup dan meningkatkan volume residu ventrikel.
Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonary meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serentetan kejadian seprti yang terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan, dimana akhirnya akan terjdi kongesti sistemik dan edema.

Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dan katub-katub trikuspidalis atau mitralis bergantian. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari annulus katub atrioventrikularis atau perubahan-perubahan pada orientasi otot papilaris dan kordatendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang.
Sebagai respon terhadap gagal jantung ada tiga meknisme primer yang dapat dilihat; meningkatnya aktifitas adrenergik simpatik, meningkatnya beban awal akibat aktivasi istem rennin-angiotensin-aldosteron dan hipertrofi ventrikel. Ketiga respon ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curh jantung. Meknisme-meknisme ini mungkin memadai untuk mempertahnkan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini, pada keadaan istirahat. Tetapi kelainan pad kerj ventrikel dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan berktivitas. Dengn berlanjutny gagal jantung maka kompensasi akan menjadi semakin luring efektif.

D. Penanganan
Gagal jantung ditngani dengan tindakan umum untuk mengurangi beban kerja jantung dan manipulasi selektif terhadap ketiga penentu utama dari fungsi miokardium, baik secar sendiri-sendiri maupun gabungan dari : beban awal, kontraktilitas dan beban akhir.Penanganan biasanya dimulai ketika gejala-gejala timbul pad saat beraktivitas biasa. Rejimen penanganan secar progresif ditingkatkan sampai mencapai respon klinik yang diinginkan. Eksaserbasi akut dari gagal jantung atau perkembangan menuju gagal jantung yang berat dapat menjadi alasan untuk dirawat dirumah sakit atau mendapat penanganan yang lebih agresif . ; 0

Pembatasan aktivitas fisik yang ketat merupakan tindakan awal yang sederhan namun sangat tepat dalam pennganan gagal jantung. Tetapi harus diperhatikan jngn sampai memaksakan lrngan yng tak perlu untuk menghindari kelemahan otot-otot rangka. Kini telah dikethui bahwa kelemahan otot rangka dapat meningkatkan intoleransi terhadap latihan fisik. Tirah baring dan aktifitas yang terbatas juga dapat menyebabkan flebotrombosis. Pemberian antikoagulansia mungkin diperlukan pad pembatasan aktifitas yang ketat untuk mengendalikan gejala. :>

E. Pemeriksaan Diagnostik

1. EKG : Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia san kerusakan pola mungkin terlihat. Disritmia mis : takhikardi, fibrilasi atrial. Kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah imfark miokard menunjukkan adanya aneurime ventricular.
2. Sonogram : Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam fungsi/struktur katub atau are penurunan kontraktilitas ventricular.
3. Skan jantung : Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding.
4. Kateterisasi jantung : Tekanan bnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan verus sisi kiri, dan stenosi katup atau insufisiensi, Juga mengkaji potensi arteri kororner. Zat kontras disuntikkan kedalam ventrikel menunjukkan ukuran bnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontrktilitas.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Gagal serambi kiri/kanan dari jantung mengakibtkan ketidakmampuan memberikan keluaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan menyebabkan terjadinya kongesti pulmonal dan sistemik . Karenanya diagnostik dan teraupetik berlnjut . GJK selanjutnya dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas.

1. Aktivitas/istirahat
a. Gejala : Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas, dispnea pada saat istirahat.
b. Tanda : Gelisah, perubahan status mental mis : letargi, tanda vital berubah pad aktivitas.

2. Sirkulasi
a. Gejala : Riwayat HT, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit jantung , bedah jantung , endokarditis, anemia, syok septic, bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen.
b. Tanda :
1) TD ; mungkin rendah (gagal pemompaan).
2) Tekanan Nadi ; mungkin sempit.
3) Irama Jantung ; Disritmia.
4) Frekuensi jantung ; Takikardia.
5) Nadi apical ; PMI mungkin menyebar dan merubah
6) posisi secara inferior ke kiri.
7) Bunyi jantung ; S3 (gallop) adalah diagnostik, S4 dapat
8) terjadi, S1 dan S2 mungkin melemah.
9) Murmur sistolik dan diastolic.
10) Warna ; kebiruan, pucat abu-abu, sianotik.
11) Punggung kuku ; pucat atau sianotik dengan pengisian
12) kapiler lambat.
13) Hepar ; pembesaran/dapat teraba.
14) Bunyi napas ; krekels, ronkhi.
15) Edema ; mungkin dependen, umum atau pitting
16) khususnya pada ekstremitas.

3. Integritas ego
a. Gejala : Ansietas, kuatir dan takut. Stres yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis)
b. Tanda : Berbagai manifestasi perilaku, mis : ansietas, marah, ketakutan dan mudah tersinggung.

4. Eliminasi
Gejala : Penurunan berkemih, urine berwana gelap, berkemih malam hari (nokturia), diare/konstipasi.

5. Makanan/cairan
a. Gejala : Kehilangan nafsu makan, mual/muntah, penambhan berat badan signifikan, pembengkakan pada ekstremitas bawah, pakaian/sepatu terasa sesak, diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan penggunaan diuretic.
b. Tanda : Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum, dependen, tekanan dn pitting).

6. Higiene
a. Gejala : Keletihan/kelemahan, kelelahan selama aktivitas Perawatan diri.
b. Tanda : Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal.

7. Neurosensori
a. Gejala : Kelemahan, pening, episode pingsan.
b. Tanda : Letargi, kusut pikir, diorientasi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung.

8. Nyeri/Kenyamanan
a. Gejala : Nyeri dada, angina akut atau kronis, nyeri abdomen kanan atas dan sakit pada otot.
b. Tanda : Tidak tenang, gelisah, focus menyempit danperilaku melindungi diri.

9. Pernapasan
a. Gejala : Dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal, batuk dengn/tanpa pembentukan sputum, riwayat penyakit kronis, penggunaan bantuan pernapasan.

b. Tanda :
1) Pernapasan; takipnea, napas dangkal, penggunaan otot asesori pernpasan.
2) Batuk : Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pemebentukan sputum.
3) Sputum ; Mungkin bersemu darah, merah muda/berbuih (edema pulmonal)
4) Bunyi napas ; Mungkin tidak terdengar.
5) Fungsi mental; Mungkin menurun, kegelisahan, letargi.
6) Warna kulit ; Pucat dan sianosis.

10. Keamanan
Gejala : Perubahan dalam fungsi mental, kehilangankekuatan/tonus otot, kulit lecet.

11. Interaksi sosial
Gejala : Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.

12. Pembelajaran/pengajaran
a. Gejala : menggunakan/lupa menggunakan obat-obat jantung, misalnya : penyekat saluran kalsium.
b. Tanda : Bukti tentang ketidak berhasilan untuk meningkatkan.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan ; Perubahan kontraktilitas miokardial/perubahan inotropik, Perubahan frekuensi, irama dan konduksi listrik, Perubahan structural, ditandai dengan ;
a. Peningkatan frekuensi jantung (takikardia) : disritmia, perubahan gambaran pola EKG
b. Perubahan tekanan darah (hipotensi/hipertensi).
c. Bunyi ekstra (S3 & S4)
d. Penurunan keluaran urine
e. Nadi perifer tidak teraba
f. Kulit dingin kusam
g. Ortopnea,krakles, pembesaran hepar, edema dan nyeri dada.

Tujuan
Klien akan : Menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritmia terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung , Melaporkan penurunan epiode dispnea, angina, Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung.
Intervensi

a. Auskultasi nadi apical ; kaji frekuensi, iram jantung
Rasional : Biasnya terjadi takikardi (meskipun pada saat istirahat) untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikel.

b. Catat bunyi jantung
Rasional : S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa. Irama Gallop umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah kesermbi yang disteni. Murmur dapat menunjukkan Inkompetensi/stenosis katup.

c. Palpasi nadi perifer
Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial, popliteal, dorsalis, pedis dan posttibial. Nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk dipalpasi dan pulse alternan.

d. Pantau TD
Rasional : Pada GJK dini, sedng atu kronis tekanan drah dapat meningkat. Pada HCF lanjut tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi danhipotensi tidak dapat norml lagi.

e. Kaji kulit terhadp pucat dan sianosis
Rasional : Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer ekunder terhadap tidak dekutnya curh jantung; vasokontriksi dan anemia. Sianosis dapt terjadi sebagai refrakstori GJK. Area yang sakit sering berwarna biru atu belang karena peningkatan kongesti vena.

f. Berikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/masker dan obat sesuai indikasi (kolaborasi)
Rasional : Meningkatkn sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia. Banyak obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.
2. Aktivitas intoleran berhubungan dengan : Ketidak seimbangan antar suplai okigen. Kelemahan umum, Tirah baring lama/immobilisasi. Ditandai dengan : Kelemahan, kelelahan, Perubahan tanda vital, adanya disrirmia, Dispnea, pucat, berkeringat.
Tujuan /kriteria evaluasi :
Klien akan : Berpartisipasi pad ktivitas yang diinginkan, memenuhi perawatan diri sendiri, Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur, dibuktikan oelh menurunnya kelemahan dan kelelahan.
Intervensi

a. Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila klien menggunakan vasodilator,diuretic dan penyekat beta.
Rasional : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi), perpindahan cairan (diuretic) atau pengaruh fungsi jantung.

b. Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, diritmia, dispnea berkeringat dan pucat.
Rasional : Penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas dpat menyebabkan peningkatan segera frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.

c. Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas.
Rasional : Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas.

d. Implementasi program rehabilitasi jantung/aktivitas (kolaborasi)
Rasional : Peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung dibawah stress, bila fungsi jantung tidak dapat membaik kembali,
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan : menurunnya laju filtrasi glomerulus (menurunnya curah jantung)/meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/air. ditandai dengan : Ortopnea, bunyi jantung S3, Oliguria, edema, Peningkatan berat badan, hipertensi, Distres pernapasan, bunyi jantung abnormal.
Tujuan /kriteria evaluasi,
Klien akan : Mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan danpengeluaran, bunyi nafas bersih/jelas, tanda vital dalam rentang yang dapat diterima, berat badan stabil dan tidak ada edema., Menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual.
Intervensi :
a. Pantau pengeluaran urine, catat jumlah dan warna saat dimana diuresis terjadi.
Rasional : Pengeluaran urine mungkin sedikit dan pekat karena penurunan perfusi ginjal. Posisi terlentang membantu diuresis sehingga pengeluaran urine dapat ditingkatkan selama tirah baring.

b. Pantau/hitung keseimbangan pemaukan dan pengeluaran selama 24 jam
Rasional : Terapi diuretic dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan (hipovolemia) meskipun edema/asites masih ada.

c. Pertahakan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler selama fase akut.
Rasional : Posisi tersebut meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis.

d. Pantau TD dan CVP (bila ada)
Rasional : Hipertensi dan peningkatan CVP menunjukkan kelebihan cairan dan dapat menunjukkan terjadinya peningkatan kongesti paru, gagal jantung.

e. Kaji bisisng usus. Catat keluhan anoreksia, mual, distensi abdomen dan konstipasi.
Rasional : Kongesti visceral (terjadi pada GJK lanjut) dapat mengganggu fungsi gaster/intestinal.

f. Pemberian obat sesuai indikasi (kolaborasi)
g. Konsul dengan ahli diet.
Rasional : perlu memberikan diet yang dapat diterima klien yang memenuhi kebutuhan kalori dalam pembatasan natrium.
4. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan : perubahan menbran kapiler-alveolus.
Tujuan /kriteria evaluasi,
Klien akan : Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenisasi dekuat pada jaringan ditunjukkan oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan., Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam btas kemampuan/situasi.
Intervensi :
a. Pantau bunyi nafas, catat krekles
Rasional : menyatakan adnya kongesti paru/pengumpulan secret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lanjut.

b. Ajarkan/anjurkan klien batuk efektif, nafas dalam.

Rasional : membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran oksigen.

c. Dorong perubahan posisi.
Rasional : Membantu mencegah atelektasis dan pneumonia.
d. Kolaborasi dalam Pantau/gambarkan seri GDA, nadi oksimetri.
Rasional : Hipoksemia dapat terjadi berat selama edema paru.
e. Berikan obat/oksigen tambahan sesuai indikasi
5. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama, edema dan penurunan perfusi jaringan.
Tujuan/kriteria evaluasi
Klien akan : Mempertahankan integritas kulit, Mendemonstrasikan perilaku/teknik mencegah kerusakan kulit.
Intervensi
a. Pantau kulit, catat penonjolan tulang, adanya edema, area sirkulasinya terganggu/pigmentasi atau kegemukan/kurus.
Rasional : Kulit beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilisasi fisik dan gangguan status nutrisi.
b. Pijat area kemerahan atau yang memutih
Rasional : meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan.
c. Ubah posisi sering ditempat tidur/kursi, bantu latihan rentang gerak pasif/aktif.
Rasional : Memperbaiki sirkulasi waktu satu area yang mengganggu aliran darah.
d. Berikan perawtan kulit, minimalkan dengan kelembaban/ekskresi.
Rasional : Terlalu kering atau lembab merusak kulit/mempercepat kerusakan.
e. Hindari obat intramuskuler
Rasional : Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan predisposisi untuk kerusakan kulit/terjadinya infeksi..
6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan program pengobatan berhubungan dengan kurang pemahaman/kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung/penyakit/gagal, ditandai dengan : Pertanyaan masalah/kesalahan persepsi, terulangnya episode GJK yang dapat dicegah.
Tujuan/kriteria evaluasi
Klien akan :
a. Mengidentifikasi hubungan terapi untuk menurunkan episode berulang dan mencegah komplikasi.
b. Mengidentifikasi stress pribadi/faktor resiko dan beberapa teknik untuk menangani.
c. Melakukan perubahan pola hidup/perilaku yang perlu.
Intervensi
a. Diskusikan fungsi jantung normal
Rasional : Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan.
b. Kuatkan rasional pengobatan.
Rasional : Klien percaya bahwa perubahan program pasca pulang dibolehkan bila merasa baik dan bebas gejala atau merasa lebih sehat yang dapat meningkatkan resiko eksaserbasi gejala.
c. Anjurkan makanan diet pada pagi hari.
Rasional : Memberikan waktu adequate untuk efek obat sebelum waktu tidur untuk mencegah/membatasi menghentikan tidur.
d. Rujuk pada sumber di masyarakat/kelompok pendukung suatu indikasi
Rasional : dapat menambahkan bantuan dengan pemantauan sendiri/penatalaksanaan dirumah.

DAFTAR PUSTAKA

Barbara C Long, Perawatan Medikal Bedah (Terjemahan), Yayasan IAPK Padjajaran Bandung, September 1996, Hal. 443 – 450

Doenges Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien), Edisi 3, Penerbit Buku Kedikteran EGC, Tahun 2002, Hal ; 52 – 64 & 240 – 249.

Junadi P, Atiek S, Husna A, Kapita selekta Kedokteran (Efusi Pleura), Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universita Indonesia, 1982, Hal.206 – 208

Wilson Lorraine M, Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit), Buku 2, Edisi 4, Tahun 1995, Hal ; 704 – 705 & 753 – 763.

 

SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU.

Syaiful Saanin, BSB Dinkes Propinsi Sumbar. Pengayaan PPDS.

Pendahuluan
Bencana merupakan peristiwa yang biasanya mendadak (bisa perlahan) disertai jatuhnya banyak korban dan bila tidak ditangani dengan tepat akan menghambat, mengganggu dan merugikan masyarakat, pelaksanaan dan hasil pembangunan. Indonesia merupakan super market bencana. Bencana pada dasarnya karena gejala alam dan akibat ulah manusia. Untuk mencegah terjadinya akibat dari bencana, khususnya untuk mengurangi dan menyelamatkan korban bencana, diperlukan suatu cara penanganan yang jelas (efektif, efisien dan terstruktur) untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana. Ditingkat nasional ditetapkan Bakornas-PBP (sekarang Banas), Satkorlak-PBP dipropinsi dan Satlak-PBP dikabupaten kota. Unsur kesehatan tergabung didalamnya.

Dalam keadaan sehari-hari maupun bencana, penanganan pasien gadar melibatkan pelayanan pra RS, di RS maupun antar RS. Memerlukan penanganan terpadu dan pengaturan dalam sistem. Ditetapkan SPGDT-S dan SPGDT-B (sehari-hari dan bencana) dalam Kepres dan ketentuan pemerintah lainnya.

Disadari untuk peran jajaran kesehatan mulai tingkat pusat hingga desa memerlukan kesiapsiagaan dan berperan penting dalam penanggulangan bencana, mengingat dampak yang sangat merugikan masyarakat. Untuk itu seluruh jajaran kesehatan perlu mengetahui tujuan dan langlah-langkah kegiatan kesehatan yang perlu ditempuh dalam upaya kesiapsiagaan dan penanggulangan secara menyeluruh.

Tujuan
1. Didapatkan kesamaan pola pikir / persepsi tentang SPGDT.
2. Diperoleh kesamaan pola tindak dalam penanganan ksus gadar dalam keadaan sehari-
hari maupun bencana.

Pengertian
1. Safe Community, (SC) : Keadaan sehat dan aman yang tercipta dari, oleh dan untuk masyarakat. Pemerintah dan teknokrat merupakan fasilitator dan pembina.

2. Bencana : Kejadian yang menyebabkan terjadinya banyak korban gadar, yang tidak dapat dilayani oleh unit pelayanan kesehatan seperti biasa, terdapat kerugian material dan terjadinya kerusakan infra struktur fisik serta terganggunya kegiatan normal masyarakat.

3. Pasien gadar adalah pasien yang berada dalam ancaman kematian dan memerlukan
pertolongan segera.
4. SPGDT : Sistem penanggulangan pasien gadar yang terdiri dari unsur, pelayanan pra RS, pelayanan di RS dan antar RS. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gadar dan sistem komunikasi.

5. PSC (Public Safety Center) : Pusat pelayanan yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegadaran, termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi dalam waktu singkat dimanapun berada. Merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan, yang bertujuan unuk mendapatkan respons cepat (quick response) terutama pelayanan pra RS.

6. BSB (Brigade Siaga Bencana) : Satuan tugas kesehatan yang terdiri dari petugas me
dis (dokter, perawat), paramedik dan awam khusus yang memberikan pelayanan kesehatan  berupa pencegahan, penyiagaan maupun pertolongan bagi korban bencana.

7. UGD (Unit Gawat Darurat) : Unit pelayanan di RS yang memberikan pelayanan pertama pada pasien engan ancaman kematian dan kecacadan secara terpadu dengan melibatkan berbagai disiplin.

8. HCU (High Care Unit) : Unit pelayanan di RS yang melakukan pelayanan khusus bagi pasien dengan kondisi respirasi, hemodinamik dan kesadaran yang sudah stabil dan masih memerlukan pengobatan, perawatan dan pengawasan secara ketat.

9. URI (Unit Rawat Intensif) : Unit pelayanan di RS yang melakukan pelayanan khusus bagi pasien gadar yang menggunakan berbagai alat bantu untuk mengatasi ancaman kematian dan melakukan pengawasan khusus terhadap fungsi vital tubuh.

SAFE COMMUNITY
Pelayanan kasehatan di Indonesia beralih ke dan berorientasi pada paradigma sehat. Untuk mencapai hal tsb. dicanangkan program Safe Community oleh Depkes pada HKN 36 di Makassar. Adalah gerakan agar masyarakat merasa sehat, aman dan sejahtera dimanapun mereka berada yang melibatkan peran aktif himpunan profesi maupun masyarakat. Gerakan ini juga terkandung dalam konstitusi WHO.

Mempunyai dua aspek, care dan cure, Care adalah adanya kerja-sama lintas sektoral terutama jajaran non kesehatan untuk menata perilaku dan lingkungan di masyarakat untuk mempersiapkan, mencagah dan melakukan mitigasi dalam menghadapi berbagai hal yang berhubungan dengan kesehatan, keamanan dan kesejahteraan. Cure adalah peran utama sektor kesehatan dibantu sektor lain terkait dalam upaya melakukan penanganan keadaan dan kasus-kasus gadar.

Kemampuan masyarakat melakukan pertolongan pertama yang cepat dan tepat pra RS merupakan awal kegiatan penanganan dari tempat kejadian dan dalam perjalanan ke RS untuk mendapatkan pelayanan yang lebih efektif di RS.

Melalui gerakan SC diharapkan dapat diwujudkan upaya-upaya untuk mengubah perilaku mulai dari kelompok keluarga, kelompok masyarakat dan lebih tinggi hingga mencapai seluruh masyarakat Indonesia. Gerakan ini harus dikembangkan secara sistematis dan berkesinambungan dengan mengikutsertakan berbagai potensi. Gerakan ini ditunjang komponen dasar : Subsistem komunikasi, transportasi, yankes maupun non kesehatan termasuk biaya yang bersinergi.

Sistem yang dikembangkan Depkes adalah pengembangan model dan pembuatan standar maupun pedoman yang diperlukan. Daerah memiliki peluang menyusun rencana kesehatan sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakatnya.

Visi gerakan SC
Menjadi gerakan di masyarakat yang mampu melindungi masyarakat dalam keadaan kedaruratan sehari-hari dan melindungi masyarakat dalam situasi bencana maupun atas dampak akibat terjadinya bencana, sehingga tercipta perilaku masyarakat dan lingkungan sekitarnya untuk terciptanya situasi sehat dan aman.

Misi gerakan SC
1. Mendorong terciptanya gerakan masyarakat untuk menjadi sehat, aman dan sejahtera.
2. Mendorong kerja-sama lintas sektor dan program dalam gerakan mewujudkan
masyarakat sehat dan aman.
3. Mengembangkan standar nasional dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
4. Mengusahakan dukungan pendanaan bidang kesehatan dari pemerintah, bantuan luar

negeri dan bantuan lain dalam rangka pemerataan dan perluasan jangkauan pelayanan
kesehatan terutama dalam keadaan darurat. Menata sistem pendukung pelayanan ke
sehatan pra RS dan playanan kesehatan di RS dan seluruh unit pelayanan kesehatan di Indonesia

Nilai dasar
1. SC meliputi aspek care (pencegahan, penyiagaan dan mitigasi),
2. Equity, adanya kebersamaan dari institusi pemerintah, kelompok/organisasi profesi dan
masyarakat dalam gerakan SC.
3. Partnership, menggalang kerja-sama lintas sektor dan masyarakat untuk mencapai tujuan dalam gerakan SC.

4. Net working, membangun suatu jaring kerja-sama dalam suatu sistem dengan melibatkan seluruh potensi yang terlibat dalam gerakan SC.

5. Sharing, memiliki rasa saling membutuhkan dan kebersamaan dalam memecahkan segala permasalahan dalam gerakan SC.

Maksud
Memberikan pedoman baku bagi daerah dalam melaksanakan gerakan SC agar terciptanya masyarakat sehat, aman dan sejahtera.

Tujuan
1. Menggerakkan partisipasi masyarakat dalam gerakan SC dan menata perilaku
masyarakat dan ingkungannya menuju perilaku sehat dan aman.
2. Membangun SPGDT yang dapat diterapkan pada seluruh lapisan masyarakat.
3. Membangun respons masyarakat pada pelayanan kesehatan dalam keadaan darurat
melalui pusat pelayanan terpadu antara lain PSC dan potensi penyiagaan fasilitas ke
sehatan serta peran serta masyarakat dalam menghadapi bencana.
4. Mempercepat response time kegadaran untuk menghindari kematian dan kecacadan
yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Sasaran yang ingin dicapai
1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kepedulian masyarakat dan profesi kesehatan dalam kewaspadaan dini kegadaran.

2. Terlaksananya koordinasi lintas sektor terkait dalam SPGDT, baik untuk keamanan   dan ketertiban (kepolisian), unsur penyelamatan (PMK) dan unsur kesehatan (RS, Puskesmas,ambulans dll) yang tergabung dalam satu kesatuan dengan mewujudkan PSC.

3. Terwujudnya subsistem komunikasi dan transportasi sebagai pendukung dalam satu sistem,SPGDT.

Falsafah dan Tujuan Organisasi dalam SC
1. Gerakan SC diwujudkan untuk memberikan rasa sehat dan aman dengan melibatkan seluruh potensi masyarakat serta memanfaatkan kemampuan dan fasilitas pada pelayanan kesehatan pra RS dan RS atau antar RS secara optimal.

2. Merubah perilaku mulai dari anggota keluarga, kelompok hingga yang lebih tinggi secara berjenjang agar mampu menanggulangi kegadaran sehari-hari.

3. Ada visi, misi, tujuan dan sasaran.
4. Menggunakan motto time saving is life and limb saving dan kemampuan rehabilitasi pasca keadaan gadar sebagai bagian upaya mewujudkan rasa sehat dan aman bagi masyarakat.

Ketentuan umum dalam pengorganisasian

1. Organisasi gerakan SC didaerah didasarkan pada organisasi yang melibatkan multi
disiplin dan multi profesisi.
2. Terdapat unsur pimpinan/wakil, sekretaris, bendahara dan anggota.
3. Minimal melibatkan unsur keamanan dan ketertiban (kepolisian, penyelamatan/PMK dan kesehatan, dan kemudian dilibatkan unsur lain seperti keselamatan dan kesehatan kerja karyawan dan humas.

Administrasi dan pengelolaan
1. Harus ada struktur serta uraian tugas, pembagian kewenangan dan mekanisme hubungan kerja dengan unit lain.

2. Unit kerja terkait al. jajaran kesehatan, kepolisian, PU, keselamatan kerja dan tenaga kerja, telekomunikasi, ormas (ORARI, RAPI, PMI dll).

3. Adanya ketetapan produk hukum, merupakan dasar mencapai visi, misi dan tujuan.
4. Adanya petunjuk dan informasi yang disediakan bagi masyarakat untuk mejamin kemudahan dan kelancaran dalam memberikan pelayanan di masyarakat.

5. Ada PSC sebagai unit pelaksana yang berfungsi untuk respons cepat kegadaran di
masyarakat.

Staf dan pimpinan
1. Gerakan SC diselenggarakan oleh seluruh komponen masyarakat dengan kepala
daerah menetapkan keberadaan organisasi ini dengan SK.
2. Organisasi dimaksud adalah PSC yang dibangun disetiap daerah.
3. Jumlah, jenis dan kualifikasi tenaga yang ditetapkan sesuai kebutuhan.

Fasilitas dan Peralatan
1. Fasilitas yang disediakan harus dapat menjamin efektifitas bagi pelayanan kepada
masyarakat termasuk pelayanan UGD di RS dengan waktu pelayanan 24 jam.
2. Sarana dan prasarana, peralatan dan obat yang disiapkan sesuai dengan standard yang ditetapkan Depkes.

3. Adanya subsistem pendukung baik komunikasi, transportasi termasuk ambulans dan keselamatan kerja.

Kebijakan dan prosedur
1. Tertulis agar dapat dievaluasi dan disempurnakan.
2. Ditetapkan kebijakan pelayanan kasus gadar pra RS, RS dan rujukannya termasuk
adanya perencanaan RS dalam penanganan bencana (Hospital disaster plan).
3. Ditetapkan adanya PSC ditiap daerah dan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja dan kegadaran sehari-hari.

SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU

Umum
Sistem yang merupakan koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita gadar baik dalam keadaan bencana maupun sehari-hari. pela-yanan medis sistem ini terdiri 3 subsistem yaitu pelayanan pra RS, RS dan antar RS.

Sistem pelayanan Medik Pra RS
Dengan mendirikan PSC, BSB dan pelayanan ambulans dan komunikasi.

Pelayanan sehari-hari :
1. PSC.

Didirikan masyarakat untuk kepentingan masyarakat. Pengorganisasian dibawah Pemda. SDM berbagai unsur tsb. ditambah masyarakat yang bergiat dalam upaya pertolongan bagi masyarakat. Biaya dari masyarakat. Kegiatan menggunakan perkembangan teknologi, pembinaan untuk memberdayakan potensi masyarakat, komunikasi untuk keterpaduan kegiatan. Kegiatan lintas sektor. PSC berfungsi sebagai respons cepat penangggulangan gadar.

2. BSB.

Unit khusus untuk penanganan pra RS, khususnya kesehatan dalam bencana. Pengorganisasian dijajaran kesehatan (Depkes, DInkes, RS), petugas medis (perawat, dokter), non medis (sanitarian, gizi, farmasi dll). Pembiayaan dari instansi yang ditunjuk dan dimasukkan APBN/APBD.
3. Pelayanan Ambulans.

Terpadu dalam koordinasi dengan memanfaatkan ambulans Puskesmas, klinik, RB, RS, non kesehatan. Koordinasi melalui pusat pelayanan yang disepakati bersama untuk mobilisasi ambulans terutama dalam bencana.

4. Komunikasi.

Terdiri dari jejaring informasi, koordinasi dan pelayanan gadar hingga seluruh kegiatan berlangsung dalam sistem terpadu.

5. Pembinaan.

Berbagai pelatihan untuk meningkatan kemampuan dan keterampilan bagi dokter, perawat, awam khusus. Penyuluhan bagi awam.

Pelayanan pada bencana, terutama pada korban massal

6. Koordinasi, komando.

Melibatkan unit lintas sektor. Kegiatan akan efektif dan efisien bila dalam koordinasi dan komando yang disepakati bersama.

7. Eskalasi dan mobilisasi sumber daya.

Dilakukan dengan mobilisasi SDM, fasilitas dan sumber daya lain sebagai pendukung pelayanan kesehatan bagi korban.

8. Simulasi.

Diperlukan protap, juklak, juknis yang perlu diuji melalui simulasi apakah dapat diimplementasikan pada keadaan sebenarnya.

9. Pelaporan, monitoring, evaluasi.

Penanganan bencana didokumentasikan dalam bentuk laporan dengan sistematika yang disepakati. Data digunakan untuk monitoring dan evaluasi keberhasilan atau kegagalan, hingga kegiatan selanjutnya lebih baik.

 

Sistem Pelayanan Medik di RS
1. Perlu sarana, prasarana, BSB, UGD, HCU, ICU, penunjang dll.
2. Perlu Hospital Disaster Plan, Untuk akibat bencana dari dalam dan luar RS.
3. Transport intra RS.
4. Pelatihan, simulasi dan koordinasi adalah kegiatan yang menjamin peningkatan kemampuan SDM, kontinuitas dan peningkatan pelayan medis.

5. Pembiayaan diperlukan dalam jumlah cukup.

Sistem Pelayanan Medik Antar RS.
1. Jejaring rujukan dibuat berdasar kemampuan RS dalam kualitas dan kuantitas.
2. Evakuasi. Antar RS dan dari pra RS ke RS.
3. Sistem Informasi Manajemen, SIM. Untuk menghadapi kompleksitas permasalahan dalam pelayanan. Perlu juga dalam audit pelayanan dan hubungannya dengan penunjang termasuk  keuangan.

4. Koordinasi dalam pelayanan terutama rujukan, diperlukan pemberian informasi keadaan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan sebelum pasien ditranportasi ke RS tujuan.

Hal-hal khusus
1. Petunjuk Pelaksanaan Permintaan dan Pengiriman bantuan medik dari RS rujukan.
2. Protap pelayanan Gadar di tempat umum.
3. Pedoman pelaporan Penilaian Awal/Cepat.

PUBLIC SAFETY CENTER

Diadakannya PSC dilandasi aspek time management sebagai implementasi time saving is life and limb saving yang mengandung unsur kecepatan atau quick respons dan ketepatan berupa mutu pelayanan yang sesuai standar. Unsur kecepatan dipenuhi oleh subsistem transportasi dan komunikasi handal sedang unsur ketepatan dipenuhi oleh kemampuan melakukan pertolongan penderita gadar (PPGD) meliputi basic life support dan advance life support sesuai masalah yang dihadapi. Pelayanan bersifat gratis dan begitu sampai RS, berlaku sistem pembayaran yang berlaku. Awak ambulans PSC berstandar BLS dan ALS.

Peran Dirjen Bina Yanmed Depkes
Tujuan pembangunan kesehatan antaranya memperbaiki kualitas pelayanan diseluruh daerah dan seluruh fasilitas pelayanan. Pelayanan medik diberikan pada individu berupa upaya promotif, kuratif dan rehabilitatif yang bersifat continuum (terus menerus). Pela-yanan medik dasar berupa pencegahan primer (health promotion dan specific protection) oleh tenaga medik maupun non medik. Pencegahan sekunder berupa deteksi dini dan pengobatan serta pembatasan cacad, serta pencegahan tertier berupa rehabilitasi medik maksimal oleh dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan lain. Yanmed dasar merupakan basis dari sistem rujukan medik spesialistik.

Hubungan Kebijakan Depkes dengan pelayanan pada masyarakat
Arah dan kebijakan pembangunan kesehatan yang ditetapkan Menkes lebih menekankan pada upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan tanpa mengabaikan pelayanan penyembuhan dan rehabilitasi untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010. Berdasar PP 25/2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan propinsi dan Kepmenkes 130/2000 tentang Organisasi dan cara kerja Depkes, maka yanmed dalam pembangunan kesehatan memerlukan :
1. Penetapan pedoman sertifikasi teknologi yanmed.
2. Penetapan pedoman penerapan, penapisan dan pengembangan teknologi dan standar etika medik.

3. Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana yanmed.
4. Penetapan standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan.
5. Penetapan pedoman pembiayaan yanmed.

Paradigma yanmed unggulan menganut pada (mengacu pada dasar-dasar bangkes tsb.):
1. Pergeseran orientasi dari professional driven menjadi client driven, klien yang semula objek menjadi subjek pelayanan. Otonomi klien sangat diutamakan seperti pada informed consent yang berupa pemberian informasi timbal balik seimbang. Hubungan provider dan client  merupakan dasar yanmed. Kepuasan klien merupakan fokus pelayanan yang menjamin kesembuhan, penurunan keluhan dan atau peningkatan kesehatan. Client driven approach merupakan lingkungan kondusif dalam menciptakan budaya mutu dari institusi yanmed.

2. Yanmed terintegrasi adalah pelayanan holistic-continuum yang akan meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan, termasuk pertimbangan biaya. Manajemen profesional memacu sinergi seluruh sumber daya.

3. Evidence based medicine adalah yanmed yang dilaksanakan profesional mengacu pada fakta yang benar, dapat dipercaya yang diinformasikan pada klien dan akan melandasi keputusan dan tindakan profesional yanmed.

4. Medicine by law. Industri pelayanan medik mengandung unsur ekonomi, sosial, profesional. Transaksi yanmed tidak sama dengan transaksi umum yang mengandung kepastian. Walaupun pasien ditangani lege artis dapat saja terjadi kematian dan kecacadan. Undang-undang perlindungan konsumen tidak dapat diterapkan dalam yanmed. Untuk itu hukum yanmed perlu dikembangkan secara adil baik dari sisi provider maupun klien. Hukum dan perundangan  dalam yanmed tsb. sebagi landasan medicine by law yang merupakan risk management menuju pelayanan prima.

Hubungan kebijakan Depkes dengan PSC
Menyediakan pelayanan prima pra RS. Menyediakan dokter yang memiliki kemampuan BLS dan ALS. Mengusahakan geomedic mapping yang merupakan pemetaan sumberdaya sarana dan prasarana kesehatan (SDM, biaya, teknologi) serta lokasi permasa-lahan, akan mempermudah koordinasi dan penggerakan sumberdaya kesehatan dan non kesehatan.    Pelayanan yang baik terkait dengan komunikasi dan transportasi terutama dalam bencana.  Koordinasi dengan polisi/SAR-PMK diperlukan. Koordinasi dengan unsur yang ditetapkan pemerintah yaitu Bakornas/Banas, Satkorlak, Satlak PBP hingga terjadi sinergi, efisiensi dan mutu penanggulangan.

Strategi pembentukan dan pengembangan PSC
1. Administrasi dan manajemen. Pengembangan visi, misi, strategi, kebijakan dan langkah-langkah. Memuat berbagai peraturan perundangan pembagian tugas kewajiban kewenangan dan tanggung-jawab antara unsur struktural tingkat pusat, propinsi, kabupaten-kota, termasuk sarana-prasarana yang berhubungan dengan transportasi, maupun yankes pra RS hingga RS Diperlukan peran serta awam, awam khusus, asuransi, yang akan terkait dalam mengatur prosedur dan hubungan kerja. Pengembangan standar pelayanan, skreditasi dan srtifikasi PSC dipelukan. Dikembangkan hubungan kerja-sama (partnership, networking, communicating,sharing) dengan instansi terkait yang berperan pada PSC.

2. SDM. Memacu sistem perencanaan pengadaan, pemanfaatan serta pengembangannya sehingga tercipta hubungan yang tepat, link and match, dengan kebutuhan setempat. SDM didapat dari pengembangan nasional atau daerah. Profesionalisme diatur perun-dangan. Dibuat ketentuan tentang sertifikasi, ijazah keahlian, akreditasi diklat serta penataan jabatan struktural dan fungsional yang proporsional. Dikembangkan emergency and disaster medicine untuk memenuhi kebutuhan daerah/nasional.

3. Teknologi. Pengembangan teknologi medik dan non medik dan penunjangnya. Melalui sistem penapisan, pemanfaatan, modifikasi serta penguasaannya terencana.

4. Pembiayaaan. Baik terhadap public goods, public private maupun private goods ditata melalui sistem prabayar seperti JPKM, asuransi, out of pocket, subsidi.

Kata kunci perencanaan terbentuknya PSC, merupakan unsur essensial PSC yang akan menjamin terwujudnya SC, al:

1. Save community.
2. Time saving is life and limb saving.
3. Preparedness, prevention, mitigation, quick response dan rehabilitation.
4. Administrasi-manajemen, SDM, teknologi dan pembiayaan.

TANGGAP DARURAT BENCANA

Pengertian
1. Korban massal. Korban relatif banyak akibat penyebab yang sama dan perlu pertolongan segera dengan kebutuhan sarana, fasilitas dan tenaga yang lebih dari yang tersedia. Tanpa kerusakan infra struktur.

2. Bencana. Mendadak / tidak terencana atau perlahan tapi berlanjut, berdampak pada
pola kehidupan normal atau ekosistem, hingga diperlukan tindakan darurat dan luar biasa untuk menolong dan menyelamatkan korban dan lingkungannya. Korban banyak, dengan kerusakan infra struktur.

3. Bencana kompleks. Bencana disertai permusuhan yang luas, disertai ancaman keamanan serta arus pengungsian luas. Korban banyak, kerusakan infra struktur, disertai ancaman keamanan.

Masalah saat bencana
1. Keterbatasan SDM. Tenaga yang ada umumnya mempunyai tugas rutin lain
2. Keterbatasan peralatan / sarana. Pusat pelayanan tidak disiapkan untuk jumlah korban
yang besar.
3. Sistem Kesehatan. Belum disiapkan secara khusus untuk menghadapi bencana.

Fase pada Disaster Cycle
1. Fase Impact / bencana. Korban jiwa, kerusakan sarana-prasarana, infra struktur, tata- nan sosial sehari-hari.

2. Fase Acute Response / tanggap segera :
a. Acute emergency response. Rescue, triase, resusitasi, stabilisasi, diagnosis, terapi definitif.
b. Emergency relief. Mamin, tenda untuk korban sehat.
c. Emergency rehabilitation. Perbaikan jalan, jembatan dan sarana dasar lain untuk  pertolongan korban.

3. Recovery. Pemulihan.
4. Development. Pembangunan.
5. Prevention. Pencegahan.
6. Mitigation. Pelunakan efek bencana.
7. Preparedness. Kesiapan menghadapi bencana.

Perlindungan diri bagi petugas
Prinsip Safety.
a. Do no further harm.
b. Safety diri saat respons kelokasi. Alat pengaman, rotator selalu hidup, sirine hanya saat mengambil korban, persiapan pada kendaraan, parkir 15 m dari lokasi (ke bakaran : 30 m,perhatikan arah angin).

c. Safety diri ditempat kejadian. Minimal berdua. Koordinasi dengan fihak terkait, cara mengangkat pasien, proteksi diri.

d. Safety lingkungan. Waspada bahaya yang mengancam.

Protokol Safety
1. Khusus.

Atribut, tanda pengenal posko-ambulans, perangkat komunikasi khusus tim, jaring kerjasama dengan keamanan, hanya masuk daerah yang dinyatakan aman. Pada daerah konflik hindari menggunakan kendaraan keamanan, ambil jarak dengan petugas keamanan. Utamakan pakai kendaraan kesehatan / PMI.
2. Umum.

Koordinasi dengan instansi setempat, KIE netralitas, siapkan jalur penyelamatan diri yang hanya diketahui tim, logistik cukup, kriteria kapan harus lari.

Posko Pelayanan Gadar Bencana
1. Penyediaan posko yankes oleh petugas yang berhadapan langsung dengan
masyarakat. Perhatikan sarat-sarat mendirikan posko.
2. Penyediaan dan pengelolaan obat.
3. Penyediaan dan pengawasan makanan dan minuman.

 

Rapid Health Assessment (RHA)
Pengertian
Penilaian kesehatan cepat melalui pengumpulan informasi cepat dan analisis besaran masalah sebagai dasar mengambil keputusan akan kebutuhan untuk tindakan penanggulangan segera.

Tujuan RHA
Penilaian cepat sesaat setelah kejadian untuk mengukur besaran masalah kesehatan akibat bencana atau pengungsian, hasilnya berbentuk rekomendasi untuk digunakan dalam pengambilan keputusan penanggulangan kesehatan selanjutnya.
Secara khusus menilai jenis bencana, lokasi, penduduk terkena, dampak yang telah / akan terjadi, kerusakan sarana yang menimbulkan masalah, kemampuan sumberdaya untuk mengatasi masalah, kemampuan respons setempat.

Variabel :

Lokasi, waktu kejadian, jumlah korban dan penyebarannya, lokasi pengungsian, masalah kesehatan dan dampaknya (jumlah tewas, jumlah luka, jumlah kerusakan sarana, endemisitas setempat, potensi air bersih, kesiapan sarana yankes, ketersediaan logistik, upaya kesehatan yang telah dilakukan, fasilitas evakuasi, kesiapan tenaga, geografis, bantuan awal yang diperlukan, kemampuan respons setempat, hambatan yang ada).

Pengumpulan data
1. Waktu. Tergantung jenis bencana.
2. Lokasi. Lokasi bencana, penampungan, daerah sekitar sebagai sumber daya.
3. Pelaksana / Tim RHA. Medis, epidemiologi, kesling, bidan/perawat, sanitarian yang bisa
bekerjasama dan memiliki kapasitas mengambil keputusan.

Metode RHA
Pengumpulan data dengan wawancara dan observasi langsung.

Analisis RHA
Diarahkan pada faktor risiko, penduduk yang berisiko, situasi penyakit dan budaya lokal, potensi sumber daya lokal, agar diperoleh gambaran.
1. Luasnya lokasi, hubungan transportasi dan komunikasi, kelancaran evakuasi, rujukan dan pertolongan, dan pelayanan kesehatan.

2. Dampak kesehatan (epidemiologi). Angka kematian-luka, angka yang terkena dan perlu  pertolongan, penyakit menular berpotensi KLB.

3. Potensi sarana pelayanan. Kemampuan sarana kesehatan terdekat.
4. Potensi sumber daya kesehatan setempat dan kemugkinan mendapatkan bantuan.
5. Potensi sumber air dan sanitasi.
6. Kesediaan logistik. Yang masih ada dan yang diperlukan.

Rekomendasi

Berdasar analisis. Segera disampaikan pada yang berwenang mana yang bisa diatasi sendiri, mana yang perlu bantuan.
Obat-bahan-alat, medik-paramedik-surveilans-sanling, pencegahan-immunisasi, ma-min, sanling, kemungkinan KLB, koordinasi, jalur komunikasi, jalur koordinasi, bantuan lain untuk mendukung kecukupan dan kelancaran pelayanan.

 

PUSTAKA
1. Seri Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) / General Emergency Life Support (GELS) : Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Cetakan ketiga. Dirjen Bina Yanmed Depkes RI, 2006.
2. Tanggap Darurat Bencana (Safe Community modul 4). Depkes RI, 2006.

 

DEHIDRASI PADA ANAK

 

Diare pada anak masih merupakan problem kesehatan dengan angka kematian yang masih tinggi terutama pada anak umur 1-4 tahun, yang memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan memadai. Secara umum penatalaksanaan diare akut ditujukan untuk mencegah dan mengobati, dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, malabsorpsi akibat kerusakan mukosa usus, penyebab diare yang spesifik, gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk memperoleh hasil yang baik pengobatan harus rational.

Pendahuluan
Sejak tahun 1992, secara umum, penyakit menular merupakan sebab dari 37,2% kematian, diantaranya 9,8% tuberkulosa, 9,2% infeksi saluran nafas dan 7,5% diare. Namun untuk kelompok usia 1 – 4 tahun, diare merupakan penyebab kematian terbanyak ( 23,2% ) sedangkan urutan ke dua (18,2%) penyebabkematian karena infeksi saluran nafas. Dari data data diatas menunjukan bahwa diare pada anak masih merupakan masalah yang memerlukan penanganan yang komprehensif dan rasional. Terapi yang rasional diharapkan akan memberikan hasil yang maksimal, oleh karena efektif, efisien dan biaya yang memadai. Yang dimaksud terapi rasional adalah terapi yang: 1) tepat indikasi, 2) tepat obat, 3) tepat dosis, 4) tepat penderita, dan 5) waspada terhadap efek samping obat.

Sebagian besar dari diare akut disebabkan oleh karena infeksi. Banyak dampak yang dapat terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain: pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan gangguan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi pada sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili yang dapat menimbulkan keadaan maldigesti dan malabsorpsi2. Dan bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik. Beberapa cara penanganan dengan menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit, pencegahan dengan vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap di beberapa penelitian.

Namun secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intoleransi, mengobati kausa dari diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara secara komprehensif, efisien dan efektif harus dilakukan secara rasional. Secara umum terapi rasional adalah terapi yang : 1) tepat indikasi, 2) tepat dosis, 3) tepat penderita, 4) tepat obat, 5) waspada terhadap efek samping. Jadi penatalaksanaan terapi diare yang menyangkut berbagai aspek didasarkan pada terapi yang rasional yang mencakup kelima hal tersebut.

A. Mencegah dan menanggulangi Dehidrasi.

Adapun tujuan dari pada pemberian cairan adalah :

1. Memperbaiki dinamika sirkulasi ( bila ada syok ).

2. Mengganti defisit yang terjadi.

3. Rumatan ( maintenance ) untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit yang sedang berlangsung ( ongoing losses ).

Pelaksanaan pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parenteral. Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat menggunakan pipa nasogastrik, walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang, bila diare profus dengan pengeluaran air tinja yang hebat ( > 100 ml/kg/hari ) atau mutah hebat ( severe vomiting ) dimana penderita tak dapat minum samasekali, atau kembung yang sangat hebat ( violent meteorism ) sehingga rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan rehidrasi panenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi.

a. Dehidrasi Ringan – Sedang

Tahap rehidrasi

Mengganti defisit. Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan pemberian oralit sesuai dengan defisit yang terjadi :

Dehidrasi ringan ( 5% ) : 50 ml/kg ( 4 – 6 jampada bayi )

( 3% ) : 30 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )

Dehidrasi sedang ( 5 – 10% ) : 50 –100 ml /kg ( 4 – 6 jam pad bayi )

( 6% ) : 60 ml/kg ( 4 – 6 jam pada anak besar )

Tahap rumatan

Dalam tahap rumatan ini meliputi untuk memenuhi kebutuhan cairan rumatan dan kebutuhan perubahan cairan rumatan yang disebabkan oleh kehilangan cairan yang sedang berjalan ( ongoing losses )

Kebutuhan Rumatan.

Terdapat beberapa model untuk menghitung kebutuhan cairan rumatan : berdasarkan berat badan, luas permukaan, atau pengeluaran kalori yang seperti kita ketahui bahwa 1 ml air diperlukan setiap 24 jam bagi setiap kalori yang dikeluarkan dan bahwa kebutuhan metabolik menentukan penggunaannya dari cadangan tubuh. Kalori yang dikonsumsi setiap kesatuan berat badan, atau tingkat metabolik menurun dengan bertambah besarnya dan usia anak ( Tabel 1,2 ).

Tabel 1. Kebutuhan Rumatan Kalori dan air per kesatuan berat badan.

Rumatan

Berat badan

K cal / kg / 24jam

ml air/kg/24jam

10 kg pertama

10 kg ke-dua

Setiap kg penambahan BB

100

50

20

100

50

20

 

Untuk mengganti kehilangan cairan yang sedang berjalan ( ongoing losses ) karena diare : 10 ml/kg bb (untuk diare infantile) dan 25 ml/kg bb (untuk kholera) untuk setiap diare cair yang terjadi disamping pemberian makanan dan minuman sebagaimana biasanya sebelum diare. Oralit merupakan cairan elektrolit–glukosa yang sangat esensial dalam pencegahan dan rehidrasi penderita dengan dehidrasi ringan–sedang.

Tabel 2. Perubahan dari Kebutuhan Rumatan (ongoing abnormal losses ).

Faktor

Perubahan dari kebutuhan

Panas

Hiperventilasi

Keringat

Diare

12 % per 0 celcius

10 – 60 ml/100 Kcal

10 – 25 ml/100 K cal

10 ml-25 ml/100 K cal

 

Secara sederhana, rehidrasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. 1.        Upaya rehidrasi oral ( URO ).

Usia

Dehidrasi ringan

3 jam pertama

( defisit 50 ml/kg )

Tanpa dehidrasi – jam

Berikutnya ongoing losses

10-25 ml/kg setiap diare

bayi s/d 1th

1 th – 5 th

> 5 th

1,5 gelas

3 gelas

6 gelas

0,5 gelas

1 gelas

2 gelas

 

2. Terapi cairan standar ( Iso-hiponatremi )

Derajat Dehidrasi

Kebutuhan cairan

Jenis cairan

Cara / lama pemberian

Berat ( 10 % )

Gangguan sirkulasi

+ 30 ml/kg/jam

NaCl 0,9%

RL

IV/1 jam

Sedang ( 6-9% )

+ 70 ml/kg/jam

NaCl 0,9%

RL

½ Darrow

IV/3 jam

IG/3 jam

( oralit )

Ringan ( 5% )

+ 50 ml/kg/3jam

½ Darrow

Oralit

IV/3 jam

IG / Oral

Tanpa dehidrasi

10-20 ml/kg

Setiap diare

Oralit /

Cairan rumah tangga

oral

 

IV : intra vena, IG : intragastrik

Untuk neonatus ( < 3 bulan )

30 ml/kg/2jam ( D10% NaCL 0,18% )

70ml/kg/6jam ( D10% NaCL 0,18%

Untuk diare dengan penyakit penyerta

30 ml/kg/2jam ( ½ Darrow )

70ml/kg/6jam ( ½ Darrow )

Untuk dehidrasi hipernatremi ( Kadar Na > 150 mEq/l )

Defisit (70ml ) + rumatan ( 100ml ) + 2 hari ongoing losses : + 320 ml/kg dalam waktu 48 jam

 

b. Dehidrasi Berat

Penderita dengan dehidrasi berat, yaitu dehidrasi lebih dari 10% untuk bayi dan anak dan menunjukkan gangguan tanda-tanda vital tubuh ( somnolen-koma, pernafasan Kussmaul, gangguan dinamik sirkulasi ) memerlukan pemberian cairan elektrolit parenteral.

Terapi rehidrasi parenteral memerlukan 3 tahap :

  1. Terapi awal.

Bertujuan untuk memperbaiki dinamik sirkulasi dan fungsi ginjal dengan cara re-ekspansi dengan cepat volume cairan ekstraseluler. Idealnya adalah bahwa seluruh cairan yang diberikan hendaknya tetap berada didalam ruang vaskuler. Untuk itu larutan elektrolit dengan kadar Na yang sama dengan darah lebih dianjurkan. Perlu penambahan glukosa dalam cairan, karena penderita yang sakit peka untukterjadinya hipoglikemi dan penambahan basa untuk koreksi asidosis.

  1. Terapi lanjutan.

Segera setelah sirkulasi dapat dipulihkan kembali, terapi cairan berikutnya untuk mengkoreksi secara menyeluruh sisa defisit air dan Na serta mengganti kehilangan abnormal dari cairan yang sedang berjalan ( ongoing losses ) serta kehilangan obligatorik (kebutuhan rumatan). Walaupun pemberian K sudah dapat dimulai , namun hal ini tidak esensial, dan biasanya tidak diberikan sebelum 24 jam. Perkecualian dalam hal ini adalah bila didapatkan hipokalemia yang berat dan nyata.

Pada saat tercapainya tahap ini, kadang perlu diketahui nilai elektrolit serum sehingga terapi cairan dapat dimodifikasi sesuai dengan kadar Na yang ada (isonatremi, hiponatremi atau hipernatremi).

Dehidrasi Isonatremi ( Na 130 – 149 mEq/l )

Pada gangguan elektrolit ini tidak saja terdapat kehilangan eksternal Na dari cairan ekstraseluler tetapi juga Na dari cairan ekstraseluler yang masuk kedalam cairan intraseluler sebagai kompensasi dari kehilangan K intraseluler. Dengan demikian pemberian Na dalam jumlah yang sama dengan kehilangannya Na dari cairan ekstraseluler akan berlebihan dan akan menghasilkan kenaikan dari Na tubuh total dari penderita; Na intraseluler yang berlebihan kelak akan kembali ke dalam cairan ekstraseluler apabila diberikan K, dengan akibat terjadinya ekspansi ke ruang ekstraseluler. Untuk menghindari hal ini, hanya 2/3 dari perkiraan hilangnya Na dan air dari cairan ekstraseluler yang perlu diganti pada 24 jam pertama pemberian cairan.

Pada tahap ini disamping mengganti defisit, keseluruhan cairan dan elektrolit yang diberikan perlu mencakup pula penggantian kehilangan cairan yang normal (ongoing normal losses) maupun yang abnormal (ongoing abnormal losses) yang terjadi melalui diare ataupun muntah.

Sesudah tahap penggantian defisit (sesudah 3-24 jam) tahap berikutnya adalah tahap rumatan yang bertujuan untuk mengganti sisa kehilangan cairan dan elektrolit secara menyeluruh dan dimulainya pemberian K.

Kebutuhan Na dan air pada tahap ini dapat diperkirakan dengan menambah 25% pada kebutuhan rumatan normal yang diperkirakan dan dengan menambah kebutuhan bagi kehilangan abnormal yang sedang berjalan (ongoing abnormal losses). Kehilangan K mungkin sama dengan kehilangan Na namun hampir keseluruhan K yang hilang adalah berasal dari cairan ekstraseluler dan harus diganti dengan memberikannya ke dalam ruang ekstraseluler. Apabila K diberikan dengan kecepatan sebanding dengan pemberian Na, maka dapat dipastikan bahwa akan terjadi hiperkalemi. Dengan demikian biasanya penggantian K dilakukan dalam waktu 3 – 4 hari. K juga jangan diberikan apabila terdapat kenaikan K serum atau sampai ginjal berfungsi dengan baik, dalam keadaan asidosis berat pemberian K harus berhati-hati. Kecuali pada keadaan yang hipokalemia berat, kadar K yang diberikan hendaknya tidak melebihi 40 m Eq/L dan kecepatan pemberiannya tidak melebihi 3 m Eq/kg/24 jam.

Dehidrasi Hiponatremi ( Na < 130mEq/l )

Keadaan ini timbul karena hilangnya Na yang relatif lebih besar dari pada air. Kehilangan (defisit) Na ekstraseluler dapat dihitung dengan formula berikut :

Defisit Na (mEq) = (nilai Na normal – nilai Na yang diperiksa) X total cairan tubuh (dalam L).

 

Karena pasien mengalami dehidrasi, keseluruhan cairan tubuhyang diperkirakan adalah 50 – 55% dari berat badan waktu masuk dan bukan 60% seperti nilai biasanya. Walaupun Na pada prinsipnya merupakan kation ekstraseluler, cairan tubuh keseluruhan (total) adalah yang dipakai untuk menghitung defisit Na. Hal ini memungkinkan bagi penggantian Na yang hilang dari cairan ekstraseluler, untuk ekspansi cairan ekstraseluler yang terjadi pada saat penggantian dan untuk mengganti hilangnya Na dari tempat penimbunan pertukaran Na seperti pada tulang.

Terapi dehidrasi hiponatremi adalah sama seperti pada dehidrasi isonatremi, kecuali pada kehilangan natrium yang berlebihan pemberian Na perlu diperhitungkan adanya kehilangan ekstra dari ion tsb. Pemberian jumlah ekstra dari Na yang diperlukan untuk mengganti kehilangan ekstra dapat dibagi rata dalam beberapa hari sehingga koreksi bertahap dari hiponatremi dapat tercapai pada saat volume telah bertambah. Kadar Na seyogyanya tidak dinaikkan secara mendadak dengan pemberian larutan garam hipertonis kecuali bila terlihat gejala keracunan air seperti kejang. Gejala jarang timbul kecuali bila serum Na berkurang dibawah 120 m Eq/L dan hal ini biasanya cepat dikontrol dengan pemberian larutan Nacl 3% pada kecepatan 1 ml/menit sampai maksimum 12 ml/kg berat badan. Larutan hipotonis perlu dihindarkan terutama pada tahap awal pemberian cairan karena adanya resiko terjadinya hiponatremi simptomatik.

Dehidrasi hipertonis ( Na > 150 mEq/l )

Hiperosmolalitas yang berat dapat mengakibatkan kerusakan otak, dengan perdarahan yang tersebar luas dan trombosis atau efusi subdural. Kerusakan serebral ini dapat mengakibatkan kerusakan syaraf yang menetap. Bahkan tanpa kerusakan tersebut yang nyata, sering pula timbul kejang pada pasien dengan hipernatremi. Diagnosis dari kerusakan serebral sekunder karena hipernatremi di topang dengan ditemukan kenaikan kadar protein dalam cairan serebrospinal.

Kejang sering pula timbul pada saat pemberian cairan karena kembalinya Na serum menjadi normal. Hal ini dapat terjadi oleh kenaikan jumlah Na dalam sel otak pada saat terjadinya dehidrasi, yang dalam gilirannya akan menimbulkan perpindahan yang berlebihan dari air ke dalam sel otak pada saat rehidrasi sebelum kelebihan Na sempat dikeluarkan, kejadian ini dapat dihindari dengan melakukan koreksi hipernatremi secara pelan dalam waktu beberapa hari. Itulah sebabnya terapi cairan perlu disesuaikan agar Na serum kembali normal tidak melebihi 10 m Eq/24 jam.

Defisit Na pada dehidrasi hipernatremi adalah relatif kecil dan volume cairan ekstraseluler relatif masih tetap tak berubah sehingga jumlah air dan Na yang diberikan pada tahap ini perlu dikurangi bila dibandingkan pada dehidrasi hipo-isonatremi. Jumlah yang sesuai adalah pemberian 60 – 75 ml/kg/24 jam dari larutan 5% dektrosa yang mengandung kombinasi bikarbonat dan khlorida.

Jumlah dari cairan dan Na rumatan perlu dikurangi dengan sekitar 25% pada tahap ini karena penderita dengan hipernatremi mempunyai ADH (antidiuretic hormone) yang tinggi yang menimbulkan berkurangnya volume urin.

Penggantian dan kehilangan abnormal yang sedang berjalan (ongoing abnormal losses) tidak memerlukan modifikasi. Apabila timbul kejang, dapat diberikan Nacl 3% 3 – 5 ml/kg intravena atau manitol hipertonik.

Pada pengobatan dehidrasi hipertonis dengan memberikan sejumlah besar air, dengan atau tanpa garam, sering menimbulkan ekspansi volume cairan ekstraseluler sebelum terjadi ekskresi Cl yang nyata atau koreksi dari asidosis. Sebagai akibatnya dapat terjadi sembab dan gagal jantung yang memerlukan digitalisasi.

Hipokalsemia kadang terlihat pula selama pengobatan dehidrasi hipernatremi, hal ini dapat dicegah dengan memberikan jumlah yang cukup kalium. Tetapi sekali timbuldiperlukan pemberian kalsium (0,5 ml/kg kalsium glukonat 10%) intravena. Komplikasi lain adalah terjadinya kerusakan tubulus ginjal dengan gejala azotemia dan berkurangnya kemampuan konsentrasi ginjal, sehingga memerlukan modifikasi cara pemberian terapi cairan. Walaupun dehidrasi hipernatremi dapat secara berhasil ditangani, pengelolaannya tetap sulit dan sering terjadi kejang, meskipun cara pemberian terapi yang terencana dengan baik.

3. Terapi akhir (pencegahan dan terapi defisiensi nutrisi)

Walaupun pada diare terapi cairan parenteral tidak cukup bagi kebutuhan penderita akan kalori , namun hal ini tidaklah menjadi masalah besar karena hanya menyangkut waktu yang pendek. Apabila penderita telah kembali diberikan diet sebagaimana biasanya, segala kekurangan tubuh akan lemak, protein akan segera dapat dipenuhi. Itulah sebabnya mengapa pada pemberian terapi cairan diusahakan agar penderita bila memungkinkan cepat mendapatkan makanan/minuman sebagai mana biasanya bahkan pada dehidrasi ringan sedang yang tidak memerlukan terapi cairan parenteral makan dan minum tetap dapat dilanjutkan (continued feeding).

B. Mengobati Kausa Diare

Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). Antibiotika hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya kholera, shigella, karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus)6. Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gejala yang berat serta berulang atau yang menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir yang jelas atau gejala sepsis.

Beberapa antimikroba yang sering dipakai antara lain13,16:

Kolera : Tetrasiklin 50mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 2 hari )

Furasolidon 5mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 3 hari )

Shigella : Trimetoprim 5-10mg/kg/hari

Sulfametoksasol 25-50mg/kg/hari

Dibagi 2 dosis ( 5 hari )

Asam Nalidiksat : 55mg/kg/hari dibagi 4 ( 5 hari )

Amebiasis : Metronidasol 30mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 5-10 hari)

Untuk kasus berat :

Dehidro emetin hidrokhlorida 1-1,5 mg/kg ( maks 90mg ) ( im ) s/d 5 hari tergantung reaksi ( untuk semua umur )

Giardiasis : Metronidasol 15mg/kg/hari dibagi 4 dosis ( 5 hari )

Antisekretorik – Antidiare.

Salazar-Lindo E dkk dari Department of Pediatrics, Hospital Nacional Cayetano Heredia, Lima, Peru, melaporkan bahwa pemakaian Racecadotril (acetorphan) yang merupakan enkephalinase inhibitor dengan efek anti sekretorik serta anti diare ternyata cukup efektif dan aman bila diberikan pada anak dengan diare akut oleh karena tidak mengganggu motilitas usus sehingga penderita tidak kembung. Bila diberikan bersamaan dengan cairan rehidrasi akan memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan hanya memberikan cairan rehidrasi saja17. Pemberian obat loperamide sebagai antisekresi-antidiare walaupun cukup efektif tetapi sering kali disertai komplikasi kembung dengan segala akibatnya.

Probiotik.

Probiotik (Lactic acid bacteria) merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang menguntungkan pada host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik di dalam lumen saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus, sehingga tidak terdapat tempat lagi untuk bakteri patogen untuk melekatkan diri pada sel epitel usus sehingga kolonisasi bakteri patogen tidak terjadi. Dengan mencermati fenomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai sebagai cara untuk pencegahan dan pengobatan diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain, pseudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian antibiotika yang tidak rasional rasional (antibiotic associated diarrhea).

Mikroekologi mikrobiota yang rusak oleh karena pemakaian antibotika dapat dinormalisir kembali dengan pemberian bakteri probiotik. Mekanisme kerja bakteri probiotik dalam meregulasi kekacauan atau gangguan keseimbangan mikrobiota komensal melalui 2 model kerja rekolonisasi bakteri probiotik dan peningkatan respon imun dari sistem imun mukosa untuk menjamin terutama sistem imun humoral lokal mukosa yang adekuat yang dapat menetralisasi bakteri patogen yang berada dalam lumen usus yang fungsi ini dilakukan oleh secretory IgA (SIgA).

C. Mencegah / Menanggulangi Gangguan Gizi

Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama pada anak dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari 24 jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup. Bila tidak maka hal ini akan merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare kronik1. Pemberian kembali makanan atau minuman ( refeeding ) secara cepat sangatlah penting bagi anak dengan gizi kurang yang mengalami diare akut dan hal ini akan mencegah berkurangnya berat badan lebih lanjut dan mempercepat kesembuhan. Air susu ibu dan susu formula serta makanan pada umumnya harus dilanjutkan pemberiannya selama diare.

Penelitian yang dilakukan oleh Lama More RA dkk menunjukkan bahwa suplemen nukleotida pada susu formula secara signifikan mengurangi lama dan beratnya diare pada anak oleh karena nucleotide adalah bahan yang sangat diperlukan untuk replikasi sel teramsuk sel epitel usus dan sel imunokompeten.

Pemberian susu rendah laktosa, formula medium laktosa atau bebas laktosa diberikan pada penderita yang menunjukkan gejala klinik dan laboratorium intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah tipe yang ringan sehingga cukup memberikan formula susu yang biasanya diminum dengan pengenceran oleh karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam waktu 2-3 hari akan sembuh terutama pada anak dengan gizi yang baik. Namun bila terdapat intoleransi laktosa yang berat dan berkepanjangan tetap diperlukan susu formula bebas laktosa untuk waktu yang lebih lama. Untuk intoleansi laktosa ringan dan sedang sebaiknya diberikan formula susu rendah laktosa27. Penulis lain memberikan formula bebas laktosa atau formula soya untuk penderita intoleransi laktosa sekunder oleh karena gastroenteritis, malnutrisi protein-kalori dan lain penyebab dari kerusakan mukosa usus. Pada keadaan ini ASI tetap diberikan; namun menurut Sullivan PB, tidak perlu memberikan susu rendah laktosa / pengenceran susu pada anak dengan diare, khususnya untuk usia di atas 1 tahun atau yang sudah makan makanan padat.

Sebagaimana halnya intoleransi laktosa, maka intoleransi lemak pada diare akut sifatnya sementara dan biasanya tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan formula khusus. Pada situasi yang memerlukan banyak enersi seperti pada fase penyembuhan diare, diet rendah lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan diare kronik.

D. Menanggulangi Penyakit Penyerta.

Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain. Sehingga dalam menangani diarenya juga perlu diperhatikan penyekit penyerta yang ada. Beberapa penyakit penyerta yang sering terjadi bersamaan dengan diare antara lain : infeksi saluran nafas, infeksi susunan saraf pusat, infeksi saluran kemih, infeksi sistemik lain ( sepsis, campak ) , kurang gizi, penyakit jantung dan penyakit ginjal.