Drug related problem

             Drug Related Problems (DRP) atau Drug Therapy Problems (DTP) didefinisikan sebagai kejadian tidak diinginkan yang menimpa pasien yang berhubungan dengan terapi obat, dansecara nyata maupun potensial berpengaruh terhadap perkembangan pasien yang diinginkan.

Suatu kejadian dapat disebut DRP bila memenuhi dua komponen berikut:

  • Kejadian tidak diinginkan yang dialami pasien.
  • Kejadian ini dapat berupa keluhan medis, gejala, diagnosis, penyakit, ketidakmampuan (disability), atau sindrom; dapat merupakan efek dari kondisi psikologis, fisiologis, sosiokultural, atau ekonomi.
  • Ada hubungan antara kejadian tersebut dengan terapi obat.
  • Bentuknya hubungan ini dapat berupa konsekuensi dari terapi obat, maupun kejadian yang memerlukan terapi obat sebagai solusi maupun preventif

Sebagai pengemban tugas pelayanan kefarmasian, seorang farmasis memiliki tanggung jawab terhadap adanya DRP yaitu dalam hal:

  1. Mengidentifikasi masalah,
  2. Menyelesaikan masalah, dan
  3. Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya DRP
  4. Untuk dapat melaksanakan tanggung jawab ini seorang farmasis memerlukan keahlian, pengetahuan, suatu sistem kesehatan yang mendukung.

            DRP dapat diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan hal-hal yang menjadi pokok perhatian dan harapan pasien sebagai berikut:

Indikasi

  1. Pasien memerlukan obat tambahan
  2. Pasien menerima obat yang tidak diperlukan
  3. Efektivitas
  4. Pasien menerima obat yang salah
  5. Pasien menerima obat yang benar tetapi dosisnya terlalu rendah
  6. Keamanan
  7. Pasien mengalami efek obat yang tidak diinginkan
  8. Pasien menerima dosis yang terlalu tinggi
  9. Kepatuhan
  10. Pasien tidak patuh terhadap regimen pengobatan
  11. Pasien membutuhkan terapi tambahan

          Keadaan yang jarang ditemukan pada DRP adalah suatu keadaan ketika pasien menderita penyakit sekunder yang mengakibatkan keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya sehingga memerlukan terapi tambahan. Penyebab utama perlunya terapi tambahan antara lain ialah untuk mengatasi kondisi sakit pasien yang tidak mendapatkan pengobatan, untuk menambahkan efek terapi yang sinergis, dan terapi untuk tujuan preventif atau profilaktif.

          Misalnya pada pasien kanker, diperlukan lebih dari satu jenis obat antikanker agar terapinya lebih efektif untuk mematikan sel-sel kanker tersebut. Terapi untuk tujuan preventif contohnya ialah pemberian tablet aspirin dosis kecil pada pasien geriatri untuk mengurangi resiko terjadinya serangan jantung dan kematian.

Pasien menerima terapi obat yang tidak diperlukan

            Pada kategori ini termasuk juga penyalahgunaan obat, narkotika, alkohol, dan swamedikasi yang tidak benar. Merupakan tanggung jawab farmasis agar pasien tidak menggunakan obat yang tidak memiliki indikasi yang valid. DRP kategori ini dapat menimbulkan implikasi negatif pada pasien berupa toksisitas atau efek samping, dan membengkaknya biaya yang dikeluarkan di luar yang seharusnya.

          Penyebab DRP kategori ini antara lain tidak ada indikasi medis yang tepat, penggunaan obat yang sifatnya adiktif, dan duplikasi terapi yang tidak perlu. Contohnya ialah pasien yang menderita batuk dan flu mengkonsumsi obat batuk dan analgesik-antipiretik terpisah, padahal dalam obat batuknya sudah mengandung parasetamol. Ada keluhan-keluhan medis yang sebenarnya bisa diatasi tanpa obat melainkan dengan perbaikan pola makan atau gaya hidup. Contohnya ialah pasien pria yang menerima ranitidine 150 mg oral 2 kali sehari untuk ulkus duodenum selama 6 minggu, kini telah sembuh tapi masih ada rasa tidak nyaman pada perutnya karena konsumsi kopi dan nikotin. Sebenarnya keluhan ini dapat diatasi bila dia mengurangi konsumsi kopi dan tidak merokok lagi, tidak perlu minum obat.

Pasien menerima regimen terapi yang salah

          Kadang-kadang suatu terapi obat yang diterima pasien bisa jadi tidak efektif, atau pasien menerima terapi obat di mana ada alternatif obat lain yang lebih efektif, atau sama efektifnya tetapi lebih aman. Misalnya pada pasien anak yang menderita otitis media diresepkan amoksisilin 125 mg 3 kali sehari selama 10 hari. Pada kejadian sebelumnya bulan yang lalu, awalnya ia diobati dengan amoksisilin, tetapi setelah 7 hari pengobatan tidak sembuh. Kemudian terapi diganti dengan kotrimoksazol, yang  akhirnya dapat menyembuhkan infeksinya. Melihat riwayat medikasinya, seharusnya anak ini diberikan kotrimoksazol karena sudah terbukti untuk penyakit yang serupa penggunaan amoksisilin tidak efektif. Ada juga kasus di mana pasien menerima suatu terapi obat padahal ia alergi terhadapnya, atau ada kontraindikasi lain, misalnya pada kasus wanita hamil dengan acne vulgaris diresepkan isotretinoin (Accutane) padahal obat ini dikontraindikasikan pada kehamilan. Penggunaan obat yang lebih mahal jika ada alternatif obat lain yang lebih murah tapi efikasinya sama juga dapat dikategorikan sebagai regimen terapi yang salah. Di sini nampak jelas pentingnya keterlibatan pasien dalam menentukan regimen terapi. Jika seorang pasien menerima terapi kombinasi padahal pemberian obat tunggal saja sudah cukup efektif, maka dapat dikatakan bahwa pasien ini mengalami DRP.

          Seorang pasien menerima obat dengan sediaan yang tidak sesuai dengan kondisinya. Misalnya pasien balita diberikan obat berupa tablet, padahal obat tersebut seharusnya diberikan dalam bentuk puyer.

Jumlah obat yang dikonsumsi terlalu sedikit

            Pasien menerima obat dalam jumlah lebih kecil dibandingkan dosis terapinya. Hal ini dapat menjadi masalah karena menyebabkan tidak efektifnya terapi sehingga pasien tidak sembuh, atau bahkan dapat memperburuk kondisi kesehatannya. Hal-hal yang menyebabkan pasien menerima obat dalam jumlah yang terlalu sedikit antara lain ialah kesalahan dosis pada peresepan obat, misalnya pemberian antibiotik amoksisilin sirup 40 mg pada pasien anak, sedangkan untuk indikasi yang sama seharusnya diberikan amoksisilin dosis 125 mg. Frekuensi dan durasi minum obat yang tidak tepat dapat menyebabkan jumlah obat yang diterima lebih sedikit dari yang seharusnya, misalnya amoksisilin yang seharusnya diminum 3 kali sehari ternyata hanya diminum 1 kali sehari; dan durasi pengobatan yang seharusnya 10 hari tetapi obatnya hanya diminum kurang dari itu. Penyimpanan juga berpengaruh terhadap beberapa jenis sediaan obat. Amoksisilin untuk anak-anak biasanya diberikan dalam bentuk sirup kering, sehingga sebelum digunakan harus dilarutkan lebih dahulu dengan air. Sediaan harus disimpan dalam lemari es untuk menjaga kestabilan kadar obat dalam sediaan. Cara pemberian yang tidak benar, misalnya menggunakan ukuran sendok yang salah untuk sediaan sirup, atau penggunaan obat semprot untuk asma dengan cara yang tidak benar, dapat mengurangi jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh pasien. Adanya interaksi obat dengan makanan atau dengan obat lain dapat menyebabkan salah satu obat berkurang absorbsinya dalam saluran cerna, atau mengalami peningkatan metabolisme sehingga jumlahnya dalam sirkulasi lebih kecil dari yang seharusnya.

            Ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan hal-hal tersebut di atas, antara lain ialah obat diresepkan dengan metode fixed-model (hanya merujuk pada dosis lazim) tanpa mempertimbangkan lebih lanjut usia, berat badan, jenis kelamin, dan kondisi penyakit pasien sehingga terjadi kesalahan dosis pada peresepan. Adanya asumsi dari tenaga kesehatan (dokter, perawat, farmasis) yang lebih menekankan keamanan obat dan meminimalisir efek toksik terkadang sampai mengorbankan sisi efektivitas terapi. Ketidakpatuhan pasien yang menyebabkan konsumsi obat tidak tepat jumlah, antara lain disebabkan karena faktor ekonomi – pasien tidak mampu menebus seluruh obat yang diresepkan, dan pasien tidak paham cara menggunakan obat dengan benar.

Jumlah obat yang dikonsumsi terlalu banyak

          Pasien menerima obat dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dosis terapinya. Hal ini tentu berbahaya karena dapat terjadi peningkatan resiko efek toksik dan bisa jadi membahayakan pasien. Hal-hal yang menyebabkan pasien menerima obat dalam jumlah yang terlalu sedikit antara lain ialah kesalahan dosis pada peresepan obat. Frekuensi dan durasi minum obat yang tidak tepat dapat menyebabkan jumlah obat yang diterima lebih banyak dari yang seharusnya. Adanya interaksi obat dengan makanan atau dengan obat lain dapat menyebabkan salah satu obat meningkatkan absorbsinya dalam saluran cerna, atau mengalami penurunan metabolisme sehingga jumlahnya dalam sirkulasi lebih banyak dari yang seharusnya.

            Ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan hal-hal tersebut di atas, antara lain ialah obat diresepkan dengan metode fixed-model (hanya merujuk pada dosis lazim) tanpa mempertimbangkan lebih lanjut usia, berat badan, jenis kelamin, dan kondisi penyakit pasien sehingga terjadi kesalahan dosis pada peresepan. Pada kasus swamedikasi, ada pasien yang berasumsi bahwa semakin tinggi dosis efek obat semakin baik. Meskipun tidak sepenuhnya salah namun banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam peningkatan dosis. Misalnya seorang pasien menderita sakit kepala kemudian mengkonsumsi parasetamol. Pada kali lain sakit kepalanya terasa lebih berat ia mengkonsumsi parasetamol dalam jumlah yang lebih besar. Mungkin ia tidak menyadari bahwa konsumsi parasetamol dalam jumlah besar apalagi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan kerusakan hati. Pada kasus-kasus swamedikasi ini perhatian dan pelayanan informasi obat oleh farmasis di apotek sangat diperlukan.

Pasien mengalami reaksi obat yang tidak diinginkan (adverse drug reaction, ADR)

            Dalam terapinya pasien mungkin menderita ADR yang dapat disebabkan karena obat tidak sesuai untuk kondisi pasien, cara pemberian obat yang tidak benar baik dari sisi frekuensi pemberian maupun durasi terapi, adanya interaksi obat, dan perubahan dosis yang terlalu cepat pada pemberian obat-obat tertentu.

            Pemberian pseudoefedrin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga menyebabkan jantung berdebar dan meningkatkan tekanan darah sehingga obat ini tidak boleh diberikan pada penderita hipertensi. Interaksi obat antara digoksin dan amiodaron atau kuinidin, dapat meningkatkan jumlah digoksin dalam darah sehingga dapat menyebabkan keracunan digoksin berupa gangguan irama denyut dan konduksi jantung. Labetalol memiliki efek samping yang disebut fenomena dosis pertama, yaitu terjadinya hipotensi orthostatik yang terjadi pada pemberian dosis pertama, atau sewaktu ada peningkatan dosis. Untuk mencegah efek samping ini dosis awal harus kecil, dan peningkatan dosis dilakukan perlahan-lahan.

            ADR seringkali menjadi hambatan dalam pelaksanaan layanan kesehatan. ADR juga dapat meningkatkan biaya perawatan kesehatan. ADR merupakan respon terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak diharapkan, serta terjadi pada pemberian dosis lazim. Terdapat dua macam ADR yaitu:

  • Tipe A

Reaksi ini terkait dengan aksi farmakologis obat, dan tergantung pada dosis yang digunakan. Ciri-ciri ADR tipe A adalah:

  • Dapat diramalkan (berdasarkan farmakologinya)
  • Tergantung pada dosis
  • Dapat ditangani dengan pengurangan dosis
  • Frekuensi terjadinya sering tetapi jarang menimbulkan efek yang serius. Contohnya pemakaian obat penghambat beta dapat menyebabkan bradikardia, dan antidepresan trisiklik menyebabkan mulut kering.
  • Tipe B

Reaksi ini tidak terkait dengan aksi farmakologis obat dan dosis yang digunakan. Ciri-ciri ADR tipe B adalah:

  • Tidak dapat diramalkan (berdasarkan farmakologinya)
  • Tidak tergantung dosis namun terkait metabolisme obat dan sistem imun penderita
  • Dapat ditangani dengan penghentian pemberian obat
  • Frekuensi terjadinya jarang tetapi menimbulkan efek yang serius bahkan mematikan. Contohnya ialah syok anafilaksis setelah injeksi antibiotika, atau terjadinya anemia aplastik pada penggunaan kloramfenikol.

Ketidakpatuhan pasien

            Ketidakpatuhan pasien dapat menimbulkan DRP. Ketidakpatuhan ini dapat disebabkan banyak hal, antara lain obat yang diresepkan tidak tersedia (di apotek terdekat) sehingga pasien kesulitan karena harus mencari obat tersebut di tempat lain. Daya beli pasien yang rendah dan harga obat yang mahal menjadi pemicu utama ketidakpatuhan pasien karena ia tidak mampu membeli semua obat yang diresepkan. Beberapa faktor penyebab ketidakpatuhan yang lain ialah pemberian sediaan yang tidak tepat sehingga pasien tidak mau atau tidak bisa mengkonsumsi obat tersebut, misalnya pasien anak diresepkan sediaan tablet yang tidak bisa ditelannya, atau diresepkan sediaan suspensi yang bau dan rasanya tidak enak, sehingga anak itu tidak mau minum obat. Pasien kadang-kadang tidak mengerti instruksi pemberian obat, atau memiliki asumsi sendiri terhadap regimen pengobatan, misalnya antibiotik yang diresepkan seharusnya diminum sampai habis tetapi ternyata pasien menghentikan minum obat setelah kondisi tubuhnya dirasa membaik padahal obat belum dihabiskan. Pada kasus khusus pasien yang beraktivitas seharian sehingga lupa meminum obatnya, atau lupa membawa inhalernya, sehingga regimen pengobatan menjadi tidak tepat.

           Secara umum perhatian farmasis terhadap adanya DRP sebaiknya diprioritaskan pada pasien geriatri, pasien pediatri, ibu hamil dan menyusui, serta pasien yang mendapatkan obat yang indeks terapinya sempit. Pasien usia lanjut memiliki kelemahan dalam hal fisik dan ingatan, sehingga sebaiknya tidak diberikan pengobatan dengan regimen yang kompleks, dan sedapat mungkin farmasis melibatkan orang lain (keluarga atau perawat) untuk mendampingi pasien tersebut menjalankan terapinya.  Pasien pediatri harus diprioritaskan dalam penanganan DRP karena kondisi fisiologisnya masih belum sempurna sehingga faktor2 metabolisme dan absorbsi obat tidak bisa disamakan begitu saja dengan pasien dewasa, dan farmasis mutlak harus melibatkan orangtua dalam pelayanan dan penanganan terhadap DRP yang diderita anaknya. Banyak obat yang dikontraindikasikan terhadap kehamilan dan keadaan menyusui karena perubahan-perubahan fisiologis yang dialami selama kehamilan, dan ada obat yang dapat terdistribusi melalui plasenta dan air susu ibu sehingga dikhawatirkan mempengaruhi pertumbuhan janin maupun bayi yang mengkonsumsi air susu ibu. Pasien yang mendapatkan obat dengan indeks terapi sempit, misalnya digitalis, harus dimonitor secara seksama penggunaan obatnya untuk mencegah efek toksik, sebab kesalahan penggunaan obat misalnya dosisnya lebih tinggi dari yang seharusnya diterima walaupun sedikit akan mengakibatkan efek toksik terutama pada jantung dan dapat menyebabkan kematian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s